POSKOTA.CO.ID - Ayatollah Ali Khamenei telah menjadi figur sentral dalam lanskap politik dan keagamaan Iran selama lebih dari empat puluh tahun.
Sejak ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989, ia memimpin negara itu melalui gejolak sosial, perubahan regional, dan dinamika geopolitik yang menempatkan Iran sebagai salah satu aktor paling diperhitungkan di Timur Tengah.
Nama Khamenei kembali menjadi sorotan setelah laporan bahwa ia menjadi sasaran ancaman pembunuhan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang rencananya ditolak oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Situasi ini menyoroti pentingnya memahami latar belakang dan perjalanan panjang sosok yang kini menjadi figur kunci di tengah ketegangan Iran–Israel.
Baca Juga: Israel-AS Serang Iran, Kemlu RI Pastikan Keselamatan WNI
Pendidikan Ulama dan Aktivisme Politik
Lahir pada 19 April 1939 di Mashhad dalam keluarga ulama, Khamenei tumbuh dalam tradisi keagamaan yang kuat. Ia menempuh pendidikan agama di kota suci Mashhad dan melanjutkan ke Najaf, Irak kota penting dalam tradisi Syiah.
Sekembalinya ke Iran, ia melanjutkan studi di Qom di bawah bimbingan ulama besar, termasuk Ayatollah Hossein Borujerdi dan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kelak menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Republik Islam.
Pada 1960–1970-an, Khamenei aktif dalam gerakan bawah tanah menentang rezim Shah Mohammad Reza Shah Pahlavi. Aktivitas ini membuatnya beberapa kali ditangkap dan disiksa oleh polisi rahasia SAVAK.
Peran Khamenei Setelah Revolusi Iran 1979
Revolusi 1979 menggulingkan Shah dan membuka jalan bagi kembalinya Khomeini ke Teheran. Peristiwa itu menjadi titik awal bagi Khamenei untuk memainkan peran strategis dalam pemerintahan baru. Ia dipercaya menjadi anggota Dewan Revolusi, terlibat dalam parlemen, menjabat sebagai wakil menteri pertahanan, dan menjadi imam salat Jumat di Teheran.
Pada 1981, ia menjadi korban percobaan pembunuhan ketika sebuah bom tersembunyi dalam perekam pita meledak saat ia menyampaikan pidato di masjid. Serangan yang dikaitkan dengan Forqan Group itu menyebabkan cedera permanen pada lengan kanannya.
Menuju Puncak Kekuasaan: Presiden hingga Pemimpin Tertinggi
Melansir dari Middle Easteye, setelah pembunuhan Presiden Mohammad Ali Raja'i dan PM Mohammad Javad Bahonar oleh kelompok Mujahedin-e Khalq, Khamenei mencalonkan diri sebagai presiden. Ia menang dengan 95 persen suara, salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Iran, dengan dukungan dari beberapa tokoh, termasuk Mir-Hossein Mousavi.
