Kopi Pagi: Tak Selamanya Diam Itu Emas

Kamis 26 Feb 2026, 06:00 WIB
Kopi Pagi: Tak Selamanya Diam Itu Emas. (Sumber: Poskota)

Kopi Pagi: Tak Selamanya Diam Itu Emas. (Sumber: Poskota)

Meski sudah ribuan pejabat dan birokrat masuk penjara karena tergoda tahta dan harta, tetapi tidak membuat jera para pelaku korupsi. Tiap tahun para koruptor bagaikan silih berganti masuk bui. Selama lima tahun terakhir (2020 –2024), sebanyak 2.700 perkara korupsi ditangani KPK.

Tren korupsi terus mewarnai di tahun berikutnya, tak terkecuali dengan dijeratnya sejumlah kepala daerah. Akankah hal semacam ni dibiarkan?Jawabnya tentu saja tidak.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan aset negara - uang rakyat melalui sejumlah kebijakan, tak terkecuali penegakan hukum demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara.Bukan diselipkan demi kepentingan politik, terlebih hukumdijadikan alat membunuh lawan politik.

Baca Juga: Kopi Pagi: Tanggap Kehendak Rakyat

Jika sudah demikian, penegakan hukum bukan menciptakan keadilan, tetapi menyemai ketidakadilan baru dan berkelanjutan.

Dalam konteks ini, pemimpin dan tokoh bangsa harus banyak bicara, yang lagi-lagi harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata agar menjadi pemimpin, pejabat dan elite politik terpercaya.

Lantas kapan harus diam? Jawabnya diam adalah emas,  jika sikap diamnya akan menciptakan kesejukan dan ketenangan. Diam (tidak melawan) menerima cacian dan makian.

Diam (tidak reaktif menerima kritik). Tetapi tiada guna diam saja ketika menyaksikan ketidakadilan, kecurangan dan ketidakjujuran terjadi di depan mata.

Baca Juga: Kopi Pagi: Solidaritas Tanpa Batas

Diam melanggar norma, jika dengan sengaja membiarkan manipulasi dan korupsi terjadi di mana - mana.Lantang bicara memberantas korupsi, tapi diam- diam melakukan korupsi. seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Sebagai elite politik dan pejabat publik memang harus banyak bicara, memberi pernyataan yang menambah ketenangan dan kesejukan. Namun, jika diprediksi akan menimbulkan kontroversi, lebih baik dihindari. Lebih baik diam mendengarkan dan menyimak suara rakyat. Lebih baik diam mencerna suara hati rakyat, ketimbang berkomentar menambah bingung rakyat dan menimbulkan kegaduhan.

“Ojo waton ngomong, ning yen ngomong sing gawe waton” itulah pitutur luhur berbahasa Jawa yang artinya jangan hanya sekadar bicara, namun apabila bicara harus bisa dibuktikan, mengandung kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Daulat Ekonomi Rakyat

Kamis 05 Feb 2026, 09:51 WIB
undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Periode Kejar Impian

Kamis 12 Feb 2026, 09:29 WIB

News Update