JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Di tengah padatnya kawasan Pecinan Jakarta, tepatnya di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, berdiri sebuah masjid yang tampil berbeda dari kebanyakan rumah ibadah umat Islam.
Masjid Lautze hadir tanpa kubah besar dan menara tinggi. Bangunannya menyerupai ruko dua lantai dengan dominasi warna merah, kuning, dan hijau warna yang kental dengan budaya Tionghoa sehingga sekilas tak tampak seperti masjid.
Keunikan visual itu bukan tanpa alasan. Masjid Lautze sejak awal memang dirancang untuk membaur dengan lingkungan sekitarnya yang multikultural, sekaligus menjadi jembatan dakwah Islam yang ramah bagi masyarakat keturunan Tionghoa.
Humas Masjid Lautze, Yusman Iriansyah, menyampaikan bahwa sejarah masjid ini bermula dari berdirinya Yayasan Haji Karim Oei pada 1991. Saat itu, yayasan masih menempati sebuah ruko sewaan yang difungsikan sebagai kantor sekretariat.
Baca Juga: Jadwal Program Bulan Puasa 2026 di Masjid Istiqlal
“Awalnya ini hanya ruko kontrakan. Karena pengurusnya Muslim, tempat ini juga dipakai untuk salat. Lama-kelamaan orang-orang tahu bahwa di sini bisa salat, akhirnya makin banyak yang datang,” ujar Yusman kepada Poskota, Rabu, 25 Februari 2026.
Yusman menjelaskan, saat itu karena statusnya masih sewa, pengurus belum berani menyebut tempat tersebut sebagai masjid. Kekhawatiran muncul apabila kontrak tidak diperpanjang, sehingga keberlangsungan tempat ibadah itu terancam.
Titik balik terjadi ketika pemilik ruko saat itu, Frans Seda tokoh nasional dan pembaharu Katolik menawarkan agar bangunan tersebut dibeli saja. Keterbatasan dana membuat pengurus yayasan belum mampu merealisasikannya.
Kesempatan itu kemudian datang melalui BJ Habibie, yang saat itu menjabat Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sekaligus Menteri Riset dan Teknologi. Habibie membeli ruko tersebut dan menghibahkannya kepada Yayasan Haji Karim Oei untuk dijadikan masjid.
Baca Juga: Wajib Coba! 3 Menu Takjil Buka Puasa ala Chef Devina Hermawan yang Segar dan Menggugah Selera
Masjid Lautze pun resmi berdiri dan diresmikan langsung oleh Habibie pada 4 Februari 1994. Prasasti peresmian dengan tanda tangan Habibie hingga kini masih terpajang di bagian depan masjid.
Nama yayasan sekaligus masjid ini diambil dari sosok Abdul Karim Oei Tjeng Hien, atau lebih dikenal sebagai Karim Oei. Ia merupakan tokoh Tionghoa Muslim yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Karim Oei dikenal sebagai sahabat dekat Presiden pertama RI, Soekarno, serta aktif mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga seorang pengusaha yang disebut sebagai pendiri awal Bank Central Asia (BCA). Setelah memeluk Islam, namanya berubah menjadi Abdul Karim, dibimbing oleh ayah Buya Hamka.
“Beliau ini pejuang, nasionalismenya kuat. Pendatang, pengusaha, lalu masuk Islam dan menjadi tokoh umat. Itu keteladanan yang ingin kami wariskan,” kata Yusma.
Karena itulah, Yayasan Haji Karim Oei sengaja mendirikan masjid ini di kawasan Pecinan. Tujuannya bukan hanya menyampaikan informasi tentang Islam kepada masyarakat keturunan Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang pembauran antara pribumi dan nonpribumi yang selama ini kerap dipandang sensitif.
Masjid Lautze dikenal sebagai salah satu pusat pembinaan mualaf terbesar di Jakarta. Hingga kini, tercatat lebih dari 2.000 orang telah mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid ini. Sekitar 90 persen di antaranya berasal dari kalangan etnis Tionghoa, baik dari Jabodetabek maupun luar negeri, termasuk Tiongkok.
Baca Juga: Doa Buka Puasa Dibaca Sebelum atau Sesudah Magrib? Ini Jawaban Ustadz Adi Hidayat
Keunikan lainnya, prosesi syahadat dapat dilakukan dalam berbagai bahasa. Untuk mualaf dari Tiongkok, pengurus menyediakan ustaz yang fasih berbahasa Mandarin. Bahasa Inggris pun disiapkan bagi warga asing dari Amerika, Eropa, Jepang, Vietnam, hingga India.
“Kami menyesuaikan kebutuhan mereka. Yang tidak bisa bahasa Indonesia, kami layani dengan bahasa yang mereka pahami,” ungkapnya.
Memasuki bagian dalam masjid, suasana khusyuk langsung terasa. Ornamen khas Tionghoa berpadu dengan kaligrafi Arab, menciptakan harmoni dua budaya yang menyatu.
Desain menyerupai klenteng ini sengaja dipilih agar masyarakat sekitar merasa lebih dekat dan tidak canggung untuk masuk dan belajar tentang Islam. Tak hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Lautze juga terbuka bagi nonmuslim yang ingin berdiskusi, belajar, atau sekadar mengenal Islam lebih dekat.
Aktivitas Ramadan dan Jam Operasional
Selama bulan suci Ramadan, Masjid Lautze rutin menggelar buka puasa bersama setiap Sabtu sore. Kegiatan ini biasanya diikuti pembagian takjil serta bingkisan, terutama menjelang Idulfitri, bagi para mualaf dan warga sekitar.
Masjid ini beroperasi layaknya ‘masjid transit’, mengikuti jam kerja kawasan perkantoran. Pintu masjid dibuka mulai pukul 08.00 hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
“Karena ini bukan di kawasan perumahan atau kampung, jamaahnya kebanyakan orang lewat. Jadi kami menyesuaikan dengan jam kerja,” kata Yusma.
Masjid Yang Dikunjungi Pertama Safari Ramadhan
Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno pun turut melaksanakan Safari Ramadhan 1447 H perdana di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat tersebut. Rano menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah di tengah masyarakat selama bulan Ramadhan bukan sekadar formalitas, melainkan upaya memperkuat kohesi sosial.
“Safari Ramadan dilakukan untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dan masyarakat, meningkatkan syiar Islam, serta menyerap aspirasi warga secara langsung,” ujar Rano.
Rano mengaku terkesan dengan karakteristik Masjid Lautze yang memiliki nilai historis dan arsitektur spesifik khas Thionghoa.
“Jujur, saya merasa sangat terhormat bisa memulai rangkaian agenda di masjid yang begitu ikonik ini. Masjid Lautze memiliki keunikan tersendiri dengan arsitektur khas Tionghoa yang dominan,” ucap Rano.
Rano turut memberikan penghormatan khusus kepada sosok Haji Karim Oei yang namanya diabadikan sebagai nama yayasan pengelola masjid tersebut. Menurut dia, Karim Oei merupakan teladan bagi warga Jakarta dalam hal integritas dan nasionalisme.
“Haji Karim Oei dikenal sebagai sosok three in one. Beliau adalah pebisnis sukses, pejuang nasional yang gigih melawan kolonial, serta tokoh agama yang tawadhu setelah menjadi mualaf. Semangat inklusivitas beliau harus tetap hidup di masjid ini," kata Rano. (cr-4)
