Masjid Lautze, Simbol Pembauran Islam dan Tionghoa di Jantung Pecinan Jakarta

Rabu 25 Feb 2026, 18:51 WIB
Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

Nama yayasan sekaligus masjid ini diambil dari sosok Abdul Karim Oei Tjeng Hien, atau lebih dikenal sebagai Karim Oei. Ia merupakan tokoh Tionghoa Muslim yang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Karim Oei dikenal sebagai sahabat dekat Presiden pertama RI, Soekarno, serta aktif mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga seorang pengusaha yang disebut sebagai pendiri awal Bank Central Asia (BCA). Setelah memeluk Islam, namanya berubah menjadi Abdul Karim, dibimbing oleh ayah Buya Hamka.

“Beliau ini pejuang, nasionalismenya kuat. Pendatang, pengusaha, lalu masuk Islam dan menjadi tokoh umat. Itu keteladanan yang ingin kami wariskan,” kata Yusma.

Karena itulah, Yayasan Haji Karim Oei sengaja mendirikan masjid ini di kawasan Pecinan. Tujuannya bukan hanya menyampaikan informasi tentang Islam kepada masyarakat keturunan Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang pembauran antara pribumi dan nonpribumi yang selama ini kerap dipandang sensitif.

Masjid Lautze dikenal sebagai salah satu pusat pembinaan mualaf terbesar di Jakarta. Hingga kini, tercatat lebih dari 2.000 orang telah mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid ini. Sekitar 90 persen di antaranya berasal dari kalangan etnis Tionghoa, baik dari Jabodetabek maupun luar negeri, termasuk Tiongkok.

Baca Juga: Doa Buka Puasa Dibaca Sebelum atau Sesudah Magrib? Ini Jawaban Ustadz Adi Hidayat

Keunikan lainnya, prosesi syahadat dapat dilakukan dalam berbagai bahasa. Untuk mualaf dari Tiongkok, pengurus menyediakan ustaz yang fasih berbahasa Mandarin. Bahasa Inggris pun disiapkan bagi warga asing dari Amerika, Eropa, Jepang, Vietnam, hingga India.

“Kami menyesuaikan kebutuhan mereka. Yang tidak bisa bahasa Indonesia, kami layani dengan bahasa yang mereka pahami,” ungkapnya.

Memasuki bagian dalam masjid, suasana khusyuk langsung terasa. Ornamen khas Tionghoa berpadu dengan kaligrafi Arab, menciptakan harmoni dua budaya yang menyatu. 

Desain menyerupai klenteng ini sengaja dipilih agar masyarakat sekitar merasa lebih dekat dan tidak canggung untuk masuk dan belajar tentang Islam. Tak hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Lautze juga terbuka bagi nonmuslim yang ingin berdiskusi, belajar, atau sekadar mengenal Islam lebih dekat.

Aktivitas Ramadan dan Jam Operasional

Selama bulan suci Ramadan, Masjid Lautze rutin menggelar buka puasa bersama setiap Sabtu sore. Kegiatan ini biasanya diikuti pembagian takjil serta bingkisan, terutama menjelang Idulfitri, bagi para mualaf dan warga sekitar.

Masjid ini beroperasi layaknya ‘masjid transit’, mengikuti jam kerja kawasan perkantoran. Pintu masjid dibuka mulai pukul 08.00 hingga sekitar pukul 17.00 WIB.


Berita Terkait


News Update