Masjid Lautze, Simbol Pembauran Islam dan Tionghoa di Jantung Pecinan Jakarta

Rabu 25 Feb 2026, 18:51 WIB
Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Sumber: Poskota/M Tegar Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Di tengah padatnya kawasan Pecinan Jakarta, tepatnya di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, berdiri sebuah masjid yang tampil berbeda dari kebanyakan rumah ibadah umat Islam. 

Masjid Lautze hadir tanpa kubah besar dan menara tinggi. Bangunannya menyerupai ruko dua lantai dengan dominasi warna merah, kuning, dan hijau warna yang kental dengan budaya Tionghoa sehingga sekilas tak tampak seperti masjid.

Keunikan visual itu bukan tanpa alasan. Masjid Lautze sejak awal memang dirancang untuk membaur dengan lingkungan sekitarnya yang multikultural, sekaligus menjadi jembatan dakwah Islam yang ramah bagi masyarakat keturunan Tionghoa.

Humas Masjid Lautze, Yusman Iriansyah, menyampaikan bahwa sejarah masjid ini bermula dari berdirinya Yayasan Haji Karim Oei pada 1991. Saat itu, yayasan masih menempati sebuah ruko sewaan yang difungsikan sebagai kantor sekretariat.

Baca Juga: Jadwal Program Bulan Puasa 2026 di Masjid Istiqlal

“Awalnya ini hanya ruko kontrakan. Karena pengurusnya Muslim, tempat ini juga dipakai untuk salat. Lama-kelamaan orang-orang tahu bahwa di sini bisa salat, akhirnya makin banyak yang datang,” ujar Yusman kepada Poskota, Rabu, 25 Februari 2026.

Yusman menjelaskan, saat itu karena statusnya masih sewa, pengurus belum berani menyebut tempat tersebut sebagai masjid. Kekhawatiran muncul apabila kontrak tidak diperpanjang, sehingga keberlangsungan tempat ibadah itu terancam.

Titik balik terjadi ketika pemilik ruko saat itu, Frans Seda tokoh nasional dan pembaharu Katolik menawarkan agar bangunan tersebut dibeli saja. Keterbatasan dana membuat pengurus yayasan belum mampu merealisasikannya.

Kesempatan itu kemudian datang melalui BJ Habibie, yang saat itu menjabat Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sekaligus Menteri Riset dan Teknologi. Habibie membeli ruko tersebut dan menghibahkannya kepada Yayasan Haji Karim Oei untuk dijadikan masjid.

Baca Juga: Wajib Coba! 3 Menu Takjil Buka Puasa ala Chef Devina Hermawan yang Segar dan Menggugah Selera

Masjid Lautze pun resmi berdiri dan diresmikan langsung oleh Habibie pada 4 Februari 1994. Prasasti peresmian dengan tanda tangan Habibie hingga kini masih terpajang di bagian depan masjid.


Berita Terkait


News Update