PULO GADUNG, POSKOTA.CO.ID - Peristiwa penganiayaan yang dialami 3 pegawai SPBU di Cipinang Muara, Pulo Gadung, Jakarta Timur bermula dari penolakan pengisian BBM jenis Pertalite gegara barcode tidak sesuai.
Pelaku yang mengaku sebagai aparat itu tak terima dan melakukan penganiayaan pada Minggu, 22 Februari 2026 malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB.
Salah satu pegawai SPBU yang menjadi korban, Lukman Hakim, 19 tahun, menceritakan kejadian penganiayaan yang menimpa dirinya serta dua rekan kerjanya tersebut.
Pada mulanya mobil Alphard datang untuk mengisi bahan bakar jenis Pertalite, namun ketika dilakukan pemindaian, barcode yang ditunjukkan tersebut tidak sesuai dengan jenis kendaraan.
Baca Juga: Sepekan Ramadan Tanpa Korban Tawuran, Polda Metro Jaya Amankan Enam Remaja
“Pelatnya sama, tapi mobil di barcode beda. Kalau kita kan sesuai SOP Pertamina, walaupun pelatnya sama tapi barcode beda, kita nggak boleh isi,” ujar Lukman kepada awak media, Selasa, 24 Februari 2026.
Menurutnya, penolakan pengisian bahan bakar oleh operator sesuai ketentuan ini menjadi pemicu pelaku menjadi emosi. Situasi malah memanas ketika salah satu karyawan mencoba memberikan penjelasan.

Salah seorang pegawai bahkan didorong hingga terbentur mobil, selanjutnya terjadi keributan dengan aksi saling dorong dan pemukulan.
Setelah memukul salah satu pegawai, pelaku kembali ke area SPBU dan melakukan kekerasan terhadap korban lain, termasuk Abud Mahmudin, 28 tahun yang mengalami luka serius.
Baca Juga: Bakar Tali Portal dan Terobos JLNT, Puluhan Pengendara Terancam Pidana
Lukman juga sempat dikejar pelaku hingga ke belakang mess karyawan. Setibanya di mess, warga menyarankan Lukman segera melapor ke kantor polisi. Menurut Lukman, pelaku beberapa kali mengaku memiliki jabatan tinggi dan menyebut ‘barcode Jenderal’, sehingga para pegawai memilih tidak melawan karena khawatir pelaku membawa senjata.
“Dia bilang, ‘Kamu tahu nggak ini barcode Jenderal?’ Berkali-kali dia ngomong begitu. Kita jadi takut juga,” kata Lukman.
Sementara itu, Abud Mahmudin mengaku sebenarnya ia tidak mengetahui secara pasti pemicu keributan di area SPBU tersebut. Pada saat kejadian, ia hanya berniat melihat situasi ketika mendengar kegaduhan. Abud bahkan tidak berbicara, namun tetap menjadi sasaran pemukulan pelaku.
“Saya nggak tahu awalnya gimana. Niatnya cuma mau tahu aja, kayak kepo doang karena ada kerusuhan. Namanya juga di lingkungan kerja,” ungkap Abud.
Baca Juga: Tiga Pegawai di Cipinang Dianiaya, Pelaku Mengaku Aparat
Ia mengatakan pukulan pertama mengenai bagian mata hingga membuatnya pusing. Pelaku kemudian kembali menghampiri dan memukul bagian pipi serta belakang telinga hingga menyebabkan giginya patah dan mengeluarkan darah.
“Gigi saya patah jadi setengah, nggak rata, berdarah karena sarafnya kena. Sampai sekarang susah makan, ngomong aja masih ngilu,” ucapnya.
Lebih lanjut, Mukhlisin, 38 tahun merupakan salah satu staf SPBU mengatakan, korban dalam peristiwa ini berjumlah 3 orang. Ketiganya yaitu Ahmad Khoirul Anam sebagai staf, Lukmanul Hakim sebagai operator, serta Abud Mahmudin sebagai operator.
"Ahmad Khoirul Anam mengalami tamparan di bagian pipi hingga bajunya robek saat terjadi aksi dorong-mendorong," jelas Mukhlisin.
Kemudian korban bernama Lukmanul Hakim dipukul di bagian rahang sebelah kanan. Sedangkan korban Abud Mahmudin mengalami pukulan di bawah mata dan di pipi dekat mulut hingga menyebabkan giginya patah. Ketiga korban langsung melapor ke pihak berwajib dan langsung menjalani visum di RS Polri Kramat Jati.
"Saat ini ketiganya masih dalam kondisi syok dan diistirahatkan sementara dari pekerjaan. Kalau pelaku angsung meninggalkan lokasi tanpa isi BBM," kata Mukhlisin. (man)
