Oleh karena itu, orang tua diimbau, untuk tidak menyamaratakan kemampuan anak-anak mereka.
Dalam pandangannya, puasa pada anak seharusnya diposisikan sebagai sarana pendidikan, bukan kewajiban yang dipaksakan.
Baca Juga: Kapan Puasa 2026 versi Pemerintah? Berpotensi Beda dengan Muhammadiyah
Anak boleh diajak untuk bangun sahur bersama keluarga, diperkenalkan pada makna puasa, serta dilibatkan dalam suasana Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan.
Apabila anak mampu bertahan hingga waktu Maghrib, hal tersebut patut disyukuri. Namun, jika di tengah hari anak merasa tidak kuat dan ingin membatalkan puasa, orang tua tidak seharusnya memarahi atau memaksanya untuk tetap melanjutkan.
Lebih lanjut, salah satu poin penting yang disoroti adalah penggunaan istilah “puasa setengah hari” yang kerap digunakan dalam mendidik anak.
Menurut Ustadz Khalid Basalamah, istilah tersebut sebaiknya dihindari karena dalam syariat Islam tidak dikenal konsep puasa setengah hari.
Jika anak membatalkan puasa sebelum Maghrib, orang tua dianjurkan menjelaskan dengan jujur bahwa puasanya telah batal.
Anak kemudian bisa diarahkan untuk mencoba kembali di hari berikutnya. Cara ini dinilai lebih tepat dalam membangun pemahaman anak bahwa puasa sejatinya dilakukan secara penuh dari Subuh hingga Maghrib.
Ustadz Khalid juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan puasa anak sebagai bentuk prestasi atau kebanggaan berlebihan.
Memberi label “hebat” karena anak mampu berpuasa setengah hari dikhawatirkan dapat menanamkan pemahaman keliru tentang hakikat puasa itu sendiri.
Sebaliknya, orang tua dianjurkan menanamkan nilai kejujuran dan pemahaman bahwa puasa adalah ibadah yang memiliki aturan jelas.
