Kita tahu, orang melakukan korupsi, bukan karena tidak tahu bahwa korupsi itu melanggar hukum. Tetapi lebih karena tidak memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu, keinginan kuat dalam hatinya untuk mendapatkan uang berlimpah dengan mudah.
Di era kini, di tengah kompetisi kehidupan yang kian ketat, menjadikan kontrol diri semakin penting menyatu dalam kalbu sebagai kekuatan penyeimbang hawa nafsu.
Secara umum kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri sendiri agar perilakunya tidak merugikan orang lain. Sikap dan perbuatannya sesuai dengan norma ideal, sosial dan moral yang berlaku di lingkungannya.
Sejatinya nafsu tidak selamanya terkait dengan hal-hal yang buruk. Menurut telaah para ahli tasawuf, nafsu memiliki tingkatan dari yang terburuk hingga yang terbaik. Tapi dalam konteks tulisan ini membatasi pada "hawa nafsu" terkait hal buruk yang harus dikendalikan sehingga perilaku buruk tadi tidak semakin menumpuk.
Hal buruk dimaksud selain sifat serakah yang melahirkan perilaku korup, juga sifat mau menang sendiri, benar sendiri, sombong dan tinggi hati. Dalam cakupan yang lebih luas lagi adalah perbuatan buruk lainnya yang tidak saja melanggar norma hukum dan agama, juga etika, adat dan budaya.
Baca Juga: Kopi Pagi: Pers Nasional, Antara Harapan dan Kenyataan
Meremehkan orang lain, merendahkan orang lain, sementara menganggap dirinya paling baik memperlihatkan belum adanya niat pengendalian diri. Menganggap orang lain sebagai penghambat lajunya prestasi, menuduh orang lain sebagai penyebab kegagalan, mencerminkan belum adanya upaya mawas diri atas kegagalan diri sendiri.
Selagi masih terus menghakimi orang lain, mencari-cari aib orang lain, tapi lupa atas aib diri sendiri, cermin masih rendahnya kemampuan mengontrol diri terhadap hawa nafsu yang bermukim dalam diri, seperti dikatakan Harmoko dalam Kopi Pagi.
Di era sekarang, di tengah tekad kuat memberantas korupsi, kian dibutuhkan peran serta semua elemen bangsa meningkatkan kontrol diri membasmi musuh tersembunyi yang masih bersemayam dalam dalam diri. Mengendalikan hawa nafsu menjadi filter agar tidak terjerumus kepada keburukan.
Para leluhur sejak awal juga mengajarkan agar hidup kita di dunia sedapat mungkin senantiasa menciptakan kebaikan, bukan keburukan. Mewujudkan keselamatan, bukan kesesatan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Selaraskan Ambang Batas
“Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara“ seperti diwasiatkan Kanjeng Sunan Kalijaga, agar manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas angkara murka, serakah dan tamak.
