POSKOTA.CO.ID - “Selagi masih terus menghakimi orang lain, mencari-cari aib orang lain, tapi lupa atas aib diri sendiri, cermin masih rendahnya kemampuan mengontrol diri (self control) terhadap hawa nafsu yang bermukim dalam diri,” kata Harmoko.
Kaum bijak bestari menyatakan kerukunan dalam masyarakat sulit diciptakan. Pasalnya, manusia belum menyadari bahwa musuh sesungguhnya adalah dirinya sendiri, bukan siapa yang ada di hadapannya.
Musuh terbesar bukan datang dari luar. Musuh berbahaya bukan dari mancanegara, bukan pula dari sekeliling kita, tapi dari dalam diri kita.
Andai sebuah peperangan, untuk memenangi perang harus menaklukkan musuh yang bersemayam dalam diri kita, hati kita, ucapan kita, dan perilaku kita yang setiap saat dapat meletup tiba-tiba, tanpa diduga sebelumnya.
Baca Juga: Kopi Pagi: Birokrasi Melayani, Bukan Dilayani
Siapakan musuh tersembunyi yang dimaksud? Jawabnya hawa nafsu kita yang tiada batas. Nafsu kita yang begitu liar menyebar bagaikan virus mematikan sel-sel kehidupan yang sehat dan bermoral.
Hawa nafsu itulah yang perlu dikendalikan agar tidak salah arah, tidak merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Lebih luas, berbangsa dan bernegara.
Ini sejalan dengan upaya pengendalian diri sebagai esensi dari puasa itu sendiri. Pengendalian diri tidak saja untuk menahan lapar dan dahaga, tidak sebatas menjauhkan hasrat untuk berkata-kata kotor, kasar dan cacian, menyebarkan hoaks, tetapi mengendalikan diri dari sikap egositas, keserakahan dan ketidakjujuran.
Dalam situasi sekarang ini berprasangka buruk kepada orang lain karena adanya perbedaan pandangan dan golongan, harus disudahi. Jika prasangka buruk terus berkecamuk dapat menimbulkan gesekan dan ketersinggungan yang pada saatnya bisa berkembang menjadi embrio perpecahan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Periode Kejar Impian
Begitu pula hasrat menumpuk kekayaan, mengambil hak orang lain dan berperilaku korup sudah saatnya ditinggalkan. Jika tidak, ketimpangan dan kecemburuan sosial kian mengkristal.
