Sebagai tradisi perayaan Imlek, Koh Tio menyebut bahwa menjadi tradisi di Kampung Pembauran, untuk menghias lingkungan dengan memasang pernak-pernik lampion.
Selain itu, tradisi lainnya juga dilakukan masyarakat, seperti merapikan rumah, bagi-bagi angpao, tradiisi panggung cokek (gambang kromong), ziarah kubur makam leluhur, serta tidak lupa sembahyang di Litang. Di tahun kuda api ini, Koh Tio juga berharap mendapatkan keberuntungan dan kemajuan dalam hidupnya.
"Harapan Imlek tahun ini di shio Kuda Api kepingin lebih maju lagi dan meriah serta selalu diserta keberuntungan," ungkapnya.
Baca Juga: Wali Kota Bogor, Minta Truk Proyek Dibersihkan sebelum Masuk Jalan Raya
Sebagai informasi, di lingkungan RT 05 RW 08 Kampung Pembauran sendiri, setidaknya ada sekitar 30 kepala keluarga dan di Blok B RW 09 ada 20 kepala keluarga yang termasuk keturunan Tionghoa, sehingga total ada 50 KK.
Sementara itu, Ketua RT setempat, Ahmad Suherman mengungkapkan, pemberian nama Kampung Pembauran dan Kampung Generasi Beragama kepada lingkungan oleh Pemkot Depok sendiri karena ditinggali berbagai suku dan agama.
"Di lingkungan RW 08 berbagai macam agama ada Kristen, Khonghucu, Islam dan berbagai macam suku Batak, Ambon, Padang, Kupang, Jawa, dan Timor-Timur jadi satu saling menghormati dan menjaga toleransi cukup kuat," kata Ahmad.
Ia menyampaikan, warga bisa saling menghormati dan tetap menjadi silaturahmi, sehingga bisa tetap rukun dan harmonis.
"Para anak generasi Konghucu saat ini yang tinggal di lingkungan juga sudah ada yang masuk agama Islam. Diharapkan kedepannya meminta warga untuk tetap mempertahankan rasa toleransi umat beragama serta mendukung satu dengan lainnya sehingga tercipta kerukunan," ujarnya. (ang)
