Perayaan Imlek Penuh Toleransi di Kampung Pembauran Limo Depok

Selasa 17 Feb 2026, 15:29 WIB
Perayaan Imlek di lingkungan RT 5 RW 08, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Kota Depok. (Sumber: Poskota/Angga Pahlevi)

Perayaan Imlek di lingkungan RT 5 RW 08, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, Kota Depok. (Sumber: Poskota/Angga Pahlevi)

DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Masyarakat etnis keturunan Thionghoa yang ada di Jalan H Bona (Kampung Pembauran) RT 05 RW 08, Kelurahan Limo, Kecamatan Limo berbaur dengan warga pribumi ikut merayakan Tahun Baru Imlek 2026.

Kampung Pembauran terlihat berbeda, hiasan pernak-pernik khas Tahun Baru Imlek terpasang di lingkungan ini. Seperti gapura yang dihias cantik serba merah, jalan dipasang lampion, serta pemasangan pernak kuda api.

Terlihat kemeriahan antara masyarakat yang merayakan Imlek turut berbaur dengan warga pribumi, sehingga toleransi sangat terasa di sini. Meski berbeda etnis, suku, dan agama, namun warga tetap bisa rukun dan harmonis.

Sesepuh masyarakat Tionghoa di Kampung Pembauran, Koh Tio Ngkay alias Herman, 75 tahun mengatakan, kegiatan perayaan Imlek 2026 lebih bermakna jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Imlek 2026: Masyarakat Tionghoa Sampaikan Doa Rejeki Lancar dan Kondisi Bangsa Lebih Baik

"Perayaan Imlek tahun ini shio Kuda Api, maknanya kedepannya lebih baik dan segala apapun dapat terlaksana, berkah, selamat, dan memudahkan rejeki," ujar Koh Tio Ngkay kepada Poskota di kediamannya, Selasa, 17 Februari 2026.

Ia menambahkan, untuk memeriahkan perayaan Imlek tahun ini dari urungan warga membuat panggung hiburan atau cokek.

Perayaan Imlek di Kampung Pembauran Limo, Kota Depok sarat makna toleransi. (Sumber: Poskota/Angga Pahlevi)

"Panggung cokek sebagai silahturahmi diadakan hasil dari urungan warga di luar etnis Thionghoa juga. Sehingga dari masyarakat Thionghoa sama warga pribumi sudah berbaur sehinga tidak ada perbedaan," ungkapnya.

Sebagai bapak 6 orang anak dan 9 cucu, generasi ke 4 dari Kincu ini berpesan kepada masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan tetap rukun.

Baca Juga: Diduga Patok Parkir Sampai Rp100 Ribu, Delapan Jukir di Tanah Abang Diringkus Polisi 

"Sejak 5 tahun silam dari Pemkot Depok karena guyub dan terjaga silahturahmi dari berbagai etnis, suku, dan agama, dikukuhkan sebagai Kampung Pembauran," ucap dia.

Sebagai tradisi perayaan Imlek, Koh Tio menyebut bahwa menjadi tradisi di Kampung Pembauran, untuk menghias lingkungan dengan memasang pernak-pernik lampion.

Selain itu, tradisi lainnya juga dilakukan masyarakat, seperti merapikan rumah, bagi-bagi angpao, tradiisi panggung cokek (gambang kromong), ziarah kubur makam leluhur, serta tidak lupa sembahyang di Litang. Di tahun kuda api ini, Koh Tio juga berharap mendapatkan keberuntungan dan kemajuan dalam hidupnya.

"Harapan Imlek tahun ini di shio Kuda Api kepingin lebih maju lagi dan meriah serta selalu diserta keberuntungan," ungkapnya.

Baca Juga: Wali Kota Bogor, Minta Truk Proyek Dibersihkan sebelum Masuk Jalan Raya

Sebagai informasi, di lingkungan RT 05 RW 08 Kampung Pembauran sendiri, setidaknya ada sekitar 30 kepala keluarga dan di Blok B RW 09 ada 20 kepala keluarga yang termasuk keturunan Tionghoa, sehingga total ada 50 KK.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Ahmad Suherman mengungkapkan, pemberian nama Kampung Pembauran dan Kampung Generasi Beragama kepada lingkungan oleh Pemkot Depok sendiri karena ditinggali berbagai suku dan agama.

"Di lingkungan RW 08 berbagai macam agama ada Kristen, Khonghucu, Islam dan berbagai macam suku Batak, Ambon, Padang, Kupang, Jawa, dan Timor-Timur jadi satu saling menghormati dan menjaga toleransi cukup kuat," kata Ahmad.

Ia menyampaikan, warga bisa saling menghormati dan tetap menjadi silaturahmi, sehingga bisa tetap rukun dan harmonis.

"Para anak generasi Konghucu saat ini yang tinggal di lingkungan juga sudah ada yang masuk agama Islam. Diharapkan kedepannya meminta warga untuk tetap mempertahankan rasa toleransi umat beragama  serta mendukung satu dengan lainnya sehingga tercipta kerukunan," ujarnya. (ang)


Berita Terkait


News Update