Cara Sehat Selama Ramadhan ala dr. Tirta: Tips Olahraga, Pola Makan, dan Gaya Hidup yang Teruji Medis

Selasa 17 Feb 2026, 09:10 WIB
dr. Tirta memberikan edukasi kesehatan mengenai olahraga, pola makan, dan kebiasaan sehat selama bulan Ramadan. (Sumber: Youtube/@Tirta Pengpengpeng)

dr. Tirta memberikan edukasi kesehatan mengenai olahraga, pola makan, dan kebiasaan sehat selama bulan Ramadan. (Sumber: Youtube/@Tirta Pengpengpeng)

POSKOTA.CO.ID - Dalam sebuah video di kanal YouTube @Tirta Pengpengpeng berjudul "MENYAMBUT BULAN SUCI DENGAN "MITOS DAN FAKTA KESEHATAN SPESIAL RAMADAN!" yang tayang 11 bulan yang lalu.

Tirta membahas mitos, fakta, serta strategi menjaga kebugaran selama menjalankan ibadah puasa. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan kesehatan fisik.

Ramadhan kerap menjadi momen refleksi spiritual sekaligus ujian bagi tubuh. Perubahan pola makan, jam tidur, serta aktivitas fisik memerlukan adaptasi yang tepat agar puasa tidak mengganggu kesehatan.

Dalam pemaparannya, dr. Tirta menegaskan bahwa kunci utama adalah memahami prioritas dan mengenali kemampuan tubuh masing-masing.

“Fokus utama di bulan Ramadan itu amalan dulu, baru otot. Jangan sampai olahraga mengganggu ibadah,” ujarnya.

Baca Juga: Niat Mandi Wajib Sebelum Puasa Ramadhan, Ini Bacaan, Tata Cara, dan Waktu yang Tepat

Ibadah sebagai Prioritas Utama

Menurut dr. Tirta, banyak orang lupa bahwa tujuan utama Ramadhan adalah meningkatkan amalan. Aktivitas olahraga dan pola makan sehat tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan kualitas ibadah.

Ia menyarankan penerapan deload, yaitu penurunan intensitas latihan sementara. Ini berlaku terutama bagi individu yang terbiasa melakukan olahraga berat atau diet ketat. Jika latihan menyebabkan mudah lelah saat tarawih atau mengganggu jam tidur, maka intensitas harus disesuaikan.

Kurma sebagai Sumber Energi Ideal

Kurma menjadi salah satu pangan yang paling dianjurkan dr. Tirta, baik untuk berbuka maupun sahur. Dengan hanya tiga butir kurma, tubuh mendapat sekitar 170–210 kalori, lengkap dengan serat, kalium, dan magnesium.

Dalam videonya ia menegaskan “Kurma itu superfood Ramadan. Energinya padat, cepat diserap, dan menyehatkan.”

Tips konsumsi kurma:

  • Pilih kurma asli tanpa sirup tambahan.
  • Gunakan kurma sebagai pembatal puasa, bukan makanan penutup berkalori tinggi.
  • Kombinasikan dengan air mineral untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Menurut dr. Tirta bahwa berbuka sebaiknya dilakukan secara sederhana, cukup air putih dan kurma sebelum salat Magrib. Ia mengingatkan agar menghindari “bom gula” seperti es buah tinggi sirup yang dapat memicu lonjakan gula darah.

Waktu Terbaik untuk Berolahraga Saat Puasa

Olahraga selama Ramadhan tidak dilarang, namun pemilihan waktu sangat menentukan keamanan dan performa tubuh. dr. Tirta membagi beberapa opsi waktu latihan:

1. Menjelang Berbuka (Ngabuburit)

Cocok untuk melatih stamina dan endurance, tetapi risiko pingsan meningkat jika tubuh dipaksa berlebihan karena gula darah cenderung rendah.

2. Setelah Berbuka Ringan

Setelah konsumsi kurma dan air, tubuh memiliki energi awal untuk melakukan olahraga intensitas ringan hingga sedang sebelum salat Isya.

3. Setelah Tarawih

Waktu ini memberi ruang pernapasan setelah makan, namun dapat mengurangi durasi tidur karena harus bangun lebih awal untuk sahur.

4. Sebelum atau Setelah Sahur

Pilihan paling stabil bagi mereka yang memiliki rutinitas pagi yang disiplin. Tubuh masih terhidrasi dan memiliki sedikit energi dari makanan sahur.

dr. Tirta mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan jadwal latihan ekstrem. “Olahraga itu boleh, tapi tubuh tetap punya batas,” ujarnya.

Strategi Latihan Beban Selama Ramadan

Bagi penggemar gym, Ramadhan bukan waktu ideal untuk bulking. Penambahan massa otot membutuhkan surplus kalori besar, sedangkan waktu makan hanya tersedia sekitar 8 jam. Menjejalkan makanan berlebih berisiko mengganggu lambung dan memicu GERD.

dr. Tirta menyebut bulan Ramadan lebih tepat digunakan sebagai fase maintenance atau cutting untuk menurunkan lemak tubuh secara lebih aman.

Mengatasi Bau Mulut dan Masalah Pencernaan

Bau mulut saat puasa merupakan keluhan umum. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya aktivitas mengunyah sehingga produksi saliva menurun dan bakteri berkembang lebih cepat.

Solusi praktis yang ia sarankan:

  • Menjaga kebersihan mulut.
  • Berkumur saat wudu tanpa menelan air.
  • Memastikan hidrasi cukup saat berbuka dan sahur.

Terkait pencernaan, dr. Tirta tidak menyarankan tidur langsung setelah sahur. Tidur dalam kondisi lambung aktif dapat mengganggu ritme sirkadian dan meningkatkan risiko refluks asam. Sebagai alternatif, ia menyarankan aktivitas ringan seperti membaca Al-Qur'an hingga tubuh siap memulai kegiatan pagi.

Baca Juga: NU Terbitkan 5 Point Penetapan Awal Ramadhan 1447 H, 1 Ramadhan Berpotensi Jatuh pada 19 Februari 2026

Meluruskan Mitos Air Dingin dan Detoks Puasa

Banyak orang menganggap air dingin menyebabkan perut kembung. Menurut dr. Tirta, hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Air dingin itu tidak bikin kembung. Yang bikin kembung adalah volume air yang masuk terlalu cepat.”

Air dingin hanya memicu brain freeze pada sebagian orang, bukan gangguan pencernaan.

Terkait detoksifikasi, puasa memang dapat membantu pembakaran lemak dan pemulihan metabolisme. Namun manfaat ini hanya tercapai jika makan dengan porsi wajar. Pola “balas dendam” saat berbuka justru meningkatkan kolesterol, gula darah, dan potensi kenaikan berat badan.

Ramadhan adalah kesempatan untuk melatih kontrol diri, bukan sekadar menahan lapar. Dengan pemilihan nutrisi yang tepat seperti kurma, pengaturan waktu olahraga yang aman, serta menjaga kebersihan mulut dan pola tidur, puasa dapat dijalankan dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan.


Berita Terkait


News Update