Kenapa Dilarang Keramas saat Imlek? Begini Penjelasan Lengkap Pantangan dan Mitosnya

Selasa 17 Feb 2026, 13:01 WIB
Ilustrasi perayaan Imlek 2026 (Sumber: Wikimedia Commons)

Ilustrasi perayaan Imlek 2026 (Sumber: Wikimedia Commons)

POSKOTA.CO.ID - Menjelang Tahun Baru Imlek, rumah-rumah keluarga Tionghoa di Indonesia umumnya mulai dipenuhi kesibukan persiapan.

Selain menata rumah dan menyiapkan angpao, dua hal “teknis” yang hampir selalu memicu perdebatan kecil adalah jadwal keramas dan potong rambut.

Di media sosial, pantangan ini kerap terdengar seperti aturan mutlak. Padahal, praktiknya sangat beragam bergantung pada tradisi keluarga, asal daerah leluhur di China, hingga tingkat keketatan seseorang dalam memegang adat.

Dalam budaya Tionghoa, pantangan Imlek sesungguhnya merupakan ekspresi simbolik. Apa yang dilakukan pada hari pertama tahun baru dipercaya menjadi “nada dasar” kehidupan sepanjang tahun. Karena itu, aktivitas yang melibatkan air dan benda tajam sering dihindari, bukan karena alasan medis, tetapi karena makna kiasannya.

Baca Juga: Mengapa Setiap Imlek Selalu Turun Hujan? Ini Penjelasan Ilmiahnya yang Jarang Dibahas

Makna Linguistik: Rambut dan Rezeki

Rambut menjadi isu sensitif saat Imlek karena berkaitan dengan permainan bunyi dalam bahasa Mandarin. Karakter rambut (发, fa) memiliki pelafalan serupa dengan fa pada kata 发财 (fa cai), yang berarti “menjadi makmur”.

Menurut sejumlah tradisi, tindakan yang bersifat membuang, mencuci, atau memotong rambut pada hari pertama Imlek dapat diartikan sebagai tindakan simbolis “membuang rezeki”.

Mengapa Dilarang Keramas di Hari Pertama Imlek?

Setidaknya terdapat dua alasan utama yang menjelaskan pantangan keramas pada hari H Imlek:

1. Simbol ‘Mencuci’ Keberuntungan

Karena rambut dikaitkan dengan kemakmuran (fa), mencuci rambut pada hari pertama disimbolkan sebagai tindakan melunturkan keberuntungan yang baru datang di awal tahun.

Banyak keluarga memilih keramas pada malam menjelang Imlek, lalu “puasa keramas” pada hari pertama.

2. Penghormatan kepada Dewa Air (Shuishen)

Dalam beberapa versi tradisi, hari pertama dan kedua Imlek dianggap sebagai hari kelahiran Dewa Air. Menggunakan air berlebihan termasuk mencuci rambut atau mencuci baju dipandang kurang sopan.


Berita Terkait


News Update