BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Sebuah aksi kekerasan terhadap seorang anak di Kota Bandung menjadi sorotan setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) menunjukkan tindakan asisten rumah tangga (ART) terhadap anak majikannya.
Peristiwa yang terjadi pada Senin pagi, 16 Februari 2026, sekitar pukul 08.22 WIB, ini memunculkan keprihatinan publik mengenai keamanan anak saat berada dalam pengasuhan pihak lain.
Melansir dari instagram @secerca.fakta, kejadian ini berlangsung di sebuah rumah warga di kawasan Sukagalih Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, dan kemudian dilaporkan secara langsung oleh pihak keluarga kepada media.
Baca Juga: Isi Chat Terakhir Siswa SD di Demak dengan Ibunya Apa? Ini Fakta di Balik Insiden Tragis
Kronologi Kejadian Berdasarkan Rekaman CCTV
Menurut keterangan keluarga, saat kejadian, kedua orang tua anak telah berangkat bekerja dan meninggalkan rumah sekitar pukul 07.00 WIB. Anak mereka berada di bawah pengawasan ART, sementara nenek dan uyut (buyut) korban berada di lantai 1 rumah yang sama.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, anak dijadwalkan untuk sarapan pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, tak berselang lama, tangisan keras anak terdengar dari lantai atas. Nenek korban menyebut bahwa tangisan tersebut “lebih keras dari biasanya” sehingga menimbulkan kecurigaan.
“Saya langsung menelepon orang tuanya dan meminta mereka untuk memeriksa rekaman CCTV,” ujar nenek korban dalam keterangannya.
Setelah dihubungi, orang tua korban segera membuka rekaman CCTV melalui akses jarak jauh. Dari rekaman itulah terlihat aksi kekerasan yang dilakukan ART terhadap anak saat proses makan berlangsung. Rekaman menampilkan tindakan fisik berupa tamparan.
Akibat hantaman itu, hidung sang anak dilaporkan mengalami pendarahan (mimisan).
Orang Tua Pulang dan Mengonfirmasi Kejadian
Begitu memastikan apa yang terjadi dalam rekaman, kedua orang tua korban langsung pulang ke rumah. Namun, menurut penuturan keluarga, orang tua tidak langsung menegur ART tersebut. Mereka terlebih dahulu ingin mengetahui penjelasan yang diberikan ART tanpa adanya tekanan atau kecurigaan.
Sesampainya di rumah, orang tua bertanya kepada ART mengenai alasan anak menangis begitu keras. ART kemudian memberi penjelasan, namun dianggap tidak sesuai dengan apa yang terlihat dalam rekaman CCTV.
