Jasa Doa Makam di TPU Karet Bivak, Kenakan Tarif Seikhlasnya dari Peziarah

Minggu 15 Feb 2026, 20:33 WIB
Peziarah di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Minggu, 15 Februari 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegat Jihad)

Peziarah di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Minggu, 15 Februari 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegat Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Di balik ramainya tradisi nyekar menjelang dan selama Ramadhan, ada pula sosok-sosok yang menggantungkan penghidupan dari jasa doa di area pemakaman. 

Di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Penjernihan, Jakarta Pusat. Para jasa doa terlihat menjamur di berbagai sisi makam. 

Mereka yang mengenakan peci, baju koko serta sarung tak henti-hentinya menawarkan jasa doa kepada para peziarah yang melintas. 

Salah satunya Icang, 72 tahun, pria lanjut usia yang hampir setiap hari duduk di dekat deretan makam, menunggu peziarah yang membutuhkan bantuan membacakan doa untuk keluarga mereka.

Baca Juga: Waktu Terbaik Ziarah Kubur Jelang Ramadhan Kapan? Inilah Penjelasan dan Tata Caranya

Dengan peci dan kitab kecil di tangan, Icang menawarkan jasa membaca Yasin, tahlil hingga doa singkat sesuai permintaan ahli waris. 

Ia mengatakan kegiatan itu bukan hanya dilakukan saat Ramadan, tetapi juga pada momen lain seperti Idulfitri. Namun bulan puasa tetap menjadi waktu paling ramai.

“Iya, selama Ramadan. Di luar Ramadan juga ada, tapi pas puasa biasanya lebih banyak,” ujar Icang kepada Poskota di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, Minggu, 15 Februari 2026.

Tidak ada tarif pasti untuk jasanya. Icang membiarkan peziarah memberi seikhlasnya sesuai kemampuan.

Baca Juga: Sering Jadi Pertanyaan, Ini Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita Haid

“Seikhlasnya. Kadang Rp50 ribu, kadang Rp100 ribu, ada juga Rp25 ribu,” ucap Icang. 

Menurutnya, pekerjaan tersebut ia lakukan karena faktor usia yang tak lagi memungkinkan bekerja fisik berat.

Ia memilih memanfaatkan ilmu agama yang dimiliki, untuk membantu orang lain sekaligus mencari penghasilan.

“Karena sudah nggak kerja fisik, jadi pakai yang ada, ilmu yang ada saja,” kata Icang. 

Baca Juga: Bacaan Doa Ziarah Kubur Jelang Ramadhan untuk Orang Tua, Simak Tata Caranya

Dalam praktiknya, peziarah bebas menentukan jenis doa. Ada yang meminta dibacakan Yasin terlebih dahulu, ada yang hanya tahlil, bahkan ada yang cukup doa singkat.

“Tergantung permintaan. Mau Yasin dulu boleh, tahlil saja boleh, Al-Fatihah langsung doa juga boleh,” ungkap Icang. 

Icang mengaku sudah menjalani profesi tersebut sejak 1982. Selama puluhan tahun, ia menyaksikan tradisi nyekar tetap bertahan dari generasi ke generasi.

"Saya dari (tahun) 82 begini," katanya. 

Baca Juga: Memperingati Hari HAPERNAS 2025, Menteri PKP Ziarah ke Makam Bung Hatta

Dalam sehari, dikatakan Icang, jumlah orang yang menggunakan jasanya tidak menentu. Kadang hanya satu orang, kadang lima orang, bahkan ada hari tanpa pelanggan sama sekali.

“Relatif. Hari ini sudah lima orang, kira-kira dapat Rp225 ribu,” ungkap dia. 

Menurutnya, banyak peziarah sebenarnya mampu membaca doa sendiri. Namun mereka tetap meminta bantuan sebagai bentuk sedekah sekaligus berbagi rezeki.

“Sebetulnya ahli waris bisa baca sendiri. Mereka mau bersedekah, pahala doanya dapat, pahala bantu orang juga dapat,” ujar Icang. (cr-4). 


Berita Terkait


News Update