Menurutnya, pekerjaan tersebut ia lakukan karena faktor usia yang tak lagi memungkinkan bekerja fisik berat.
Ia memilih memanfaatkan ilmu agama yang dimiliki, untuk membantu orang lain sekaligus mencari penghasilan.
“Karena sudah nggak kerja fisik, jadi pakai yang ada, ilmu yang ada saja,” kata Icang.
Baca Juga: Bacaan Doa Ziarah Kubur Jelang Ramadhan untuk Orang Tua, Simak Tata Caranya
Dalam praktiknya, peziarah bebas menentukan jenis doa. Ada yang meminta dibacakan Yasin terlebih dahulu, ada yang hanya tahlil, bahkan ada yang cukup doa singkat.
“Tergantung permintaan. Mau Yasin dulu boleh, tahlil saja boleh, Al-Fatihah langsung doa juga boleh,” ungkap Icang.
Icang mengaku sudah menjalani profesi tersebut sejak 1982. Selama puluhan tahun, ia menyaksikan tradisi nyekar tetap bertahan dari generasi ke generasi.
"Saya dari (tahun) 82 begini," katanya.
Baca Juga: Memperingati Hari HAPERNAS 2025, Menteri PKP Ziarah ke Makam Bung Hatta
Dalam sehari, dikatakan Icang, jumlah orang yang menggunakan jasanya tidak menentu. Kadang hanya satu orang, kadang lima orang, bahkan ada hari tanpa pelanggan sama sekali.
“Relatif. Hari ini sudah lima orang, kira-kira dapat Rp225 ribu,” ungkap dia.
Menurutnya, banyak peziarah sebenarnya mampu membaca doa sendiri. Namun mereka tetap meminta bantuan sebagai bentuk sedekah sekaligus berbagi rezeki.
