Apa Itu SEAblings dan KNetz? Ini Arti Istilah dan Kronologi Konflik Netizen Asia Tenggara–Korea Selatan

Jumat 13 Feb 2026, 20:12 WIB
Ilustrasi - istilah SEAblings dan KNetz, dua sebutan yang merepresentasikan kelompok netizen Asia Tenggara dan Korea Selatan. (Sumber: Instagram/@awreceh)

Ilustrasi - istilah SEAblings dan KNetz, dua sebutan yang merepresentasikan kelompok netizen Asia Tenggara dan Korea Selatan. (Sumber: Instagram/@awreceh)

POSKOTA.CO.ID - Dalam beberapa hari terakhir, ruang publik digital tengah mencuat istilah SEAblings dan KNetz, dua sebutan yang merepresentasikan kelompok netizen Asia Tenggara dan Korea Selatan.

Perseteruan yang awalnya tampak seperti adu pendapat biasa di media sosial tersebut dengan cepat berkembang menjadi perang kata-kata terbuka, memicu reaksi emosional, hingga berujung pada tudingan rasisme dari kedua belah pihak.

Istilah SEAblings dan KNetz kemudian menjadi simbol dua kubu yang saling berhadapan.

Oleh karena itu, memahami arti istilah SEAblings dan KNetz, serta duduk perkara konflik yang melatarbelakanginya, penting agar publik tidak terjebak dalam narasi emosional semata.

Lantas, apa sebenarnya yang memicu perseteruan ini dan bagaimana duduk perkaranya hingga meluas sedemikian rupa? Berikut kronologi lengkapnya.

Baca Juga: Link Video Cukur Kumis Day 2 Viral di TikTok, Cuplikan Baru Bikin Publik Makin Penasaran

Apa Itu KNetz dan SEAblings?

Sebelum menelusuri kronologi konflik, penting memahami istilah yang digunakan. KNetz merupakan singkatan dari Korean Netizen.

Istilah ini merujuk pada pengguna internet asal Korea Selatan yang aktif di berbagai forum daring seperti Theqoo dan Pann, serta di media sosial global.

Dalam industri hiburan Korea, KNetz dikenal memiliki pengaruh besar. Opini mereka kerap menjadi rujukan, bahkan dianggap dapat memengaruhi karier selebritas.

Kritik, pujian, hingga kontroversi yang berasal dari KNetz sering kali menjadi sorotan media internasional.

Sementara itu, SEAblings merupakan akronim dari South East Asia Siblings atau Persaudaraan Asia Tenggara.

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan solidaritas warganet dari negara-negara Asia Tenggara yang kerap saling mendukung di dunia maya.

SEAblings diasosiasikan sebagai komunitas yang mungkin sering saling berselisih secara internal, namun akan bersatu ketika merasa disudutkan atau diserang pihak luar.

Istilah ini juga pernah viral sebelumnya, salah satunya saat warganet Thailand memberikan dukungan terhadap isu sosial di Indonesia pada 2025 lalu. Sejak saat itu, SEAblings menjadi simbol solidaritas digital kawasan.

Baca Juga: Seperti Apa Jam Kerja Dapur Program Makan Gratis? Ini Pembagian Tugas Pemorsian sampai Packing

Kronologi KNetz vs SEAblings

Konflik terbuka antara warganet Korea Selatan yang dikenal sebagai KNetz dan warganet Asia Tenggara yang menyebut diri mereka SEAblings berawal dari sebuah peristiwa yang tampak sepele.

Mengutip laporan Channel NewsAsia, pada Jumat, 13 Februari 2026, duduk perkara perseteruan ini bermula dari konser band K-Pop Day6 yang digelar di Malaysia pada 31 Januari 2026.

Pada awal penyelenggaraannya, konser tersebut dinilai berjalan lancar dan sukses. Ribuan penggemar memadati lokasi acara untuk menyaksikan penampilan band asal Korea Selatan itu.

Tidak ada insiden berarti yang dilaporkan selama konser berlangsung. Namun, situasi berubah drastis setelah acara berakhir dan sejumlah penonton lokal mulai menyuarakan keluhan mereka di media sosial.

Keluhan tersebut terutama diarahkan kepada keberadaan fansite asal Korea Selatan yang kedapatan menggunakan kamera dan lensa profesional berukuran besar di area konser.

Padahal, panitia secara tegas telah melarang penggunaan peralatan fotografi profesional demi menjaga kenyamanan dan keamanan penonton.

Larangan ini lazim diterapkan dalam konser musik berskala besar untuk mencegah gangguan visual maupun risiko keselamatan.

Sejumlah penonton asal Malaysia mengunggah video dan foto yang memperlihatkan lensa kamera fansite berada sangat dekat dengan kepala penonton lain.

Dalam rekaman tersebut, terlihat bagaimana ukuran lensa yang besar membatasi ruang gerak penonton di sekitarnya.

Situasi itu dinilai mengganggu kenyamanan, terutama bagi mereka yang berada di area berdiri dan tidak memiliki ruang untuk berpindah posisi.

Unggahan-unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan memicu diskusi luas. Banyak warganet Asia Tenggara menyuarakan solidaritas terhadap penonton lokal, menilai tindakan fansite sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap aturan dan kurangnya empati terhadap sesama penonton.

Fansite dalam kultur K-Pop dikenal sebagai penggemar yang secara khusus mendedikasikan diri untuk mendokumentasikan aktivitas idola mereka, baik di bandara, acara publik, maupun konser.

Mereka umumnya menggunakan kamera profesional dengan kualitas tinggi untuk menghasilkan foto dan video yang kemudian dibagikan di media sosial.

Hasil dokumentasi fansite sering kali mendapat apresiasi luas, bahkan tak jarang dipuji langsung oleh para idola.

Namun, penting dicatat bahwa fansite tidak memiliki afiliasi resmi dengan artis maupun manajemen.

Karena itu, keberadaan mereka tetap terikat pada aturan yang ditetapkan oleh penyelenggara acara di setiap negara.

Dalam kasus konser Day6 di Malaysia, penggunaan kamera profesional dinilai melanggar ketentuan yang telah disepakati. Inilah yang menjadi pemicu utama kecaman dari penonton lokal.

Kecaman tersebut tidak berhenti di satu arah. Pihak fansite membalas kritik dengan menyatakan keberatan atas unggahan video dan foto yang menampilkan wajah serta aktivitas mereka tanpa izin.

Bahkan, beberapa di antaranya sempat melontarkan ancaman akan menempuh jalur hukum dengan alasan pelanggaran privasi.

Meski pada akhirnya pihak fansite menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, polemik telanjur membesar.

Permintaan maaf tersebut dinilai tidak cukup untuk meredam kekecewaan dan amarah warganet, khususnya dari Asia Tenggara.

Pasca permintaan maaf, konflik justru semakin memanas. Sejumlah akun anonim yang diduga berasal dari kalangan KNetz bermunculan dan terus membela tindakan fansite.

Adu argumen pun berkembang menjadi perang komentar yang melibatkan warganet dari berbagai negara Asia Tenggara.

Topik perdebatan tak lagi terbatas pada etika menonton konser. Isu-isu sensitif seperti kemampuan bahasa Inggris, standar kecantikan, hingga persoalan sosial di Korea Selatan dan Asia Tenggara mulai diseret ke ruang publik digital.

Situasi kian memprihatinkan ketika sebagian komentar berubah menjadi hinaan bernuansa rasisme.

Perbandingan fisik, stereotip budaya, hingga ejekan ekstrem muncul dari kedua kubu. Balasan yang sama keras terus berdatangan, menciptakan siklus konflik yang sulit diredam.

Hingga kini, perang kata-kata antara KNetz dan SEAblings masih terus bergulir di berbagai platform media sosial, menjadi cerminan rapuhnya batas antara fandom, identitas budaya, dan konflik sosial di era digital.


Berita Terkait


News Update