Permintaan maaf tersebut dinilai tidak cukup untuk meredam kekecewaan dan amarah warganet, khususnya dari Asia Tenggara.
Pasca permintaan maaf, konflik justru semakin memanas. Sejumlah akun anonim yang diduga berasal dari kalangan KNetz bermunculan dan terus membela tindakan fansite.
Adu argumen pun berkembang menjadi perang komentar yang melibatkan warganet dari berbagai negara Asia Tenggara.
Topik perdebatan tak lagi terbatas pada etika menonton konser. Isu-isu sensitif seperti kemampuan bahasa Inggris, standar kecantikan, hingga persoalan sosial di Korea Selatan dan Asia Tenggara mulai diseret ke ruang publik digital.
Situasi kian memprihatinkan ketika sebagian komentar berubah menjadi hinaan bernuansa rasisme.
Perbandingan fisik, stereotip budaya, hingga ejekan ekstrem muncul dari kedua kubu. Balasan yang sama keras terus berdatangan, menciptakan siklus konflik yang sulit diredam.
Hingga kini, perang kata-kata antara KNetz dan SEAblings masih terus bergulir di berbagai platform media sosial, menjadi cerminan rapuhnya batas antara fandom, identitas budaya, dan konflik sosial di era digital.
