Dalam rekaman tersebut, terlihat bagaimana ukuran lensa yang besar membatasi ruang gerak penonton di sekitarnya.
Situasi itu dinilai mengganggu kenyamanan, terutama bagi mereka yang berada di area berdiri dan tidak memiliki ruang untuk berpindah posisi.
Unggahan-unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan memicu diskusi luas. Banyak warganet Asia Tenggara menyuarakan solidaritas terhadap penonton lokal, menilai tindakan fansite sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap aturan dan kurangnya empati terhadap sesama penonton.
Fansite dalam kultur K-Pop dikenal sebagai penggemar yang secara khusus mendedikasikan diri untuk mendokumentasikan aktivitas idola mereka, baik di bandara, acara publik, maupun konser.
Mereka umumnya menggunakan kamera profesional dengan kualitas tinggi untuk menghasilkan foto dan video yang kemudian dibagikan di media sosial.
Hasil dokumentasi fansite sering kali mendapat apresiasi luas, bahkan tak jarang dipuji langsung oleh para idola.
Namun, penting dicatat bahwa fansite tidak memiliki afiliasi resmi dengan artis maupun manajemen.
Karena itu, keberadaan mereka tetap terikat pada aturan yang ditetapkan oleh penyelenggara acara di setiap negara.
Dalam kasus konser Day6 di Malaysia, penggunaan kamera profesional dinilai melanggar ketentuan yang telah disepakati. Inilah yang menjadi pemicu utama kecaman dari penonton lokal.
Kecaman tersebut tidak berhenti di satu arah. Pihak fansite membalas kritik dengan menyatakan keberatan atas unggahan video dan foto yang menampilkan wajah serta aktivitas mereka tanpa izin.
Bahkan, beberapa di antaranya sempat melontarkan ancaman akan menempuh jalur hukum dengan alasan pelanggaran privasi.
Meski pada akhirnya pihak fansite menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, polemik telanjur membesar.
