Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan solidaritas warganet dari negara-negara Asia Tenggara yang kerap saling mendukung di dunia maya.
SEAblings diasosiasikan sebagai komunitas yang mungkin sering saling berselisih secara internal, namun akan bersatu ketika merasa disudutkan atau diserang pihak luar.
Istilah ini juga pernah viral sebelumnya, salah satunya saat warganet Thailand memberikan dukungan terhadap isu sosial di Indonesia pada 2025 lalu. Sejak saat itu, SEAblings menjadi simbol solidaritas digital kawasan.
Baca Juga: Seperti Apa Jam Kerja Dapur Program Makan Gratis? Ini Pembagian Tugas Pemorsian sampai Packing
Kronologi KNetz vs SEAblings
Konflik terbuka antara warganet Korea Selatan yang dikenal sebagai KNetz dan warganet Asia Tenggara yang menyebut diri mereka SEAblings berawal dari sebuah peristiwa yang tampak sepele.
Mengutip laporan Channel NewsAsia, pada Jumat, 13 Februari 2026, duduk perkara perseteruan ini bermula dari konser band K-Pop Day6 yang digelar di Malaysia pada 31 Januari 2026.
Pada awal penyelenggaraannya, konser tersebut dinilai berjalan lancar dan sukses. Ribuan penggemar memadati lokasi acara untuk menyaksikan penampilan band asal Korea Selatan itu.
Tidak ada insiden berarti yang dilaporkan selama konser berlangsung. Namun, situasi berubah drastis setelah acara berakhir dan sejumlah penonton lokal mulai menyuarakan keluhan mereka di media sosial.
Keluhan tersebut terutama diarahkan kepada keberadaan fansite asal Korea Selatan yang kedapatan menggunakan kamera dan lensa profesional berukuran besar di area konser.
Padahal, panitia secara tegas telah melarang penggunaan peralatan fotografi profesional demi menjaga kenyamanan dan keamanan penonton.
Larangan ini lazim diterapkan dalam konser musik berskala besar untuk mencegah gangguan visual maupun risiko keselamatan.
Sejumlah penonton asal Malaysia mengunggah video dan foto yang memperlihatkan lensa kamera fansite berada sangat dekat dengan kepala penonton lain.
