POSKOTA.CO.ID - Pesan seperti “Selamat, limit PayLater Anda naik jadi Rp50 juta, klik link berikut untuk aktivasi” mungkin terdengar menggiurkan. Namun di baliknya bisa tersembunyi jebakan serius. Modus phishing semacam ini telah memakan banyak korban di berbagai daerah di Indonesia.
Seiring pertumbuhan transaksi digital dan penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL), serangan siber ikut meningkat. Berbagai laporan keamanan digital menunjukkan Indonesia menjadi salah satu target terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi lain, muncul anggapan bahwa semua layanan PayLater tidak aman dan data pengguna diperjualbelikan. Kenyataannya, penyelenggara yang resmi dan terdaftar di OJK diwajibkan mematuhi aturan ketat terkait pelindungan data pribadi.
Ancaman terbesar sering kali justru berasal dari kelengahan pengguna saat menerima pesan palsu. Berikut panduan lengkap mengenali modus, cara pencegahan, hingga jalur pelaporan resmi.
Baca Juga: Bunga Shopee PayLater 2,95 Persen, Begini Cara Menghitung Cicilan agar Tak Kaget
Lonjakan Kasus Phishing yang Menyasar Pengguna PayLater di Indonesia

Industri BNPL berkembang sangat cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, nilainya tumbuh ratusan persen. Namun pertumbuhan ini dibarengi peningkatan aktivitas penipuan digital.
Laporan berbagai lembaga keamanan siber memperlihatkan sektor e-commerce dan layanan keuangan digital menjadi target utama.
Karena PayLater terintegrasi di dalamnya, pengguna otomatis ikut menjadi sasaran empuk.
Logikanya sederhana: makin banyak pengguna, makin besar peluang pelaku menjalankan tipu dayanya.
Baca Juga: Telat Bayar Tagihan TikTok PayLater? Ini 6 Hal yang Akan Terjadi
Modus Phishing Paling Umum yang Menargetkan Pengguna Fintech
Pelaku terus memperbarui cara agar terlihat meyakinkan. Bahkan sebagian sudah memanfaatkan teknologi terbaru supaya korban sulit membedakan mana yang asli dan palsu, berikut contohnya:
- Link Palsu Mengatasnamakan Platform Resmi
