JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Tragedi kematian, YBS, 10 tahun, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menjadi perhatian publik.
Bocah yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar (SD) memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis 29 Januari 2026 pekan lalu.
Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.
Baca Juga: Prediksi Libur Awal Puasa 2026 Anak Sekolah, Cek Informasi Jadwalnya di Sini
Dari pemeriksaan kepolisian, diduga sebelum ditemukan tewas tergantung, korban sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena kepada ibunya. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibundanya tidak memiliki uang yang cukup.
Menanggapi hal tersebut, Pendiri Mujadalah Kiai Kampung (MKK) Indonesia, Mohamad Najib Salim Atamimi, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya anak tersebut.
Najib menilai peristiwa tersebut bukan sekadar musibah keluarga. Melainkan cermin kegagalan moral dan tanggung jawab kepemimpinan dalam melindungi anak-anak bangsa. "Tragedi ini merupakan alarm keras bagi negara dan para pemangku kebijakan," ujar Najib dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia pun mempertanyakan dengan serius, bagaimana mungkin seorang anak berusia 10 tahun bisa sampai pada titik keputusasaan yang begitu dalam hingga memilih mengakhiri hidupnya.
"Ini menandakan adanya persoalan struktural, sosial, dan psikologis yang selama ini diabaikan,” ujarnya.
Baca Juga: Kasus Murid SD Tewas di Ngada, Gubernur NTT: Ini Sangat Memalukan, Kita Semua Gagal
