POSKOTA.CO.ID - Pernah merasa gaji baru cair, tapi langsung habis untuk melunasi tagihan paylater? Kondisi ini bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan fenomena nasional yang kini tercatat dalam data resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater memang menawarkan kemudahan luar biasa. Cukup beberapa klik, barang langsung terbeli tanpa perlu membayar di awal.
Namun di balik kemudahan tersebut, total pembiayaan BNPL di Indonesia telah menembus Rp30,36 triliun per November 2024, disertai tren kredit bermasalah yang terus meningkat.
Ironisnya, lebih dari separuh pengguna yang gagal bayar berasal dari kelompok usia 19-34 tahun, kelompok produktif yang seharusnya sedang membangun fondasi keuangan.
Baca Juga: Sebelum Aktivasi Shopee PayLater dan SPinjam, Ketahui Risiko dan Keuntungannya
Meski begitu, menyebut paylater sepenuhnya berbahaya juga tidak sepenuhnya tepat. Masalah utamanya terletak pada cara penggunaan, bukan pada produknya.
Lonjakan Pengguna Paylater dan Risiko yang Mengikutinya

Pertumbuhan layanan paylater di Indonesia berlangsung sangat agresif. Fitur ini kini melekat di hampir seluruh ekosistem digital, mulai dari Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Blibli, Traveloka, hingga layanan transportasi online seperti Gojek dan Grab.
Mengacu data OJK, total pembiayaan BNPL per November 2024 mencapai Rp30,36 triliun, tumbuh 47,59 persen secara tahunan (year on year). Dari jumlah tersebut, pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan tercatat Rp8,59 triliun, melonjak 61,9 persen.
Sementara dari sektor perbankan, baki debet kredit BNPL mencapai Rp21,77 triliun yang disalurkan kepada 24,51 juta rekening.
Angka ini menunjukkan bahwa paylater telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Namun, tingginya adopsi juga dibarengi meningkatnya risiko jika tidak diiringi literasi keuangan yang memadai.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Dampak Telat Bayar Shopee Paylater terhadap Skor Kredit dan Akun
