Ekonomika Pancasila: Bersemi Ekonomi Perbudakan

Rabu 04 Feb 2026, 09:16 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre). (Sumber: Poskota)

Para pemujanya menggambarkan bagaimana logika imperialisme begitu total, hingga moral, bahaya, dan bahkan kematiannya dapat dikonversi menjadi transaksi yang menguntungkan.

Dalam kerangka ini, imperialisme tidak runtuh karena diserang dari luar, tetapi karena ia dengan rakus menjual segala sesuatu, termasuk benih kehancurannya sendiri.

Secara kritis, kalimat ini juga menunjukkan bahwa imperialisme tidak memiliki kesetiaan pada nilai, ide, atau masa depannya. Mereka hanya beriman pada laba (kemaruk angka dan benda). Jika ada permintaan, maka akan ada penawaran, tak peduli seberapa destruktif akibatnya.

Sistem ini tidak menolak ancaman, ia justru memanfaatkannya semaksimal dan sepuas-puasnya. Bahkan perlawanan bisa dipaketkan, dijual dan dikonsumsi sebagai produk, hingga kehilangan daya revolusionernya.

Ini semua menjadi peringatan bagi mereka yang ingin melawan ketidakadilan hasil imperialisme: jika perlawanan hanya berhenti pada simbol, slogan, atau konsumsi, maka semua akan segera diserap kembali oleh sistem yang dilawannya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Jejak Jahat Ekonomi Kolonial

Dus, revolusi yang tidak mengubah kesadaran, struktur, dan fungsi hanya akan menjadi komoditas baru yang laku keras, viral, tapi pada akhirnya jinak dan tak lagi berbahaya. Sebagian bahkan kapok dan mengkhianati kawan seperjuangan.

Karena itu, mulai pahami perang sesungguhnya kini terjadi antara dua kekuatan utama: (1) Mereka yang berkeinginan mempertahankan ekonomi perbudakan yang bersumber dari konstitusi palsu berciri liar, ambisius tak terbatas, berhadapan dengan (2) Kita semua para patriot yang dijalankan hati tulus, mencintai konstitusi asli, menegakkan republik tanpa ada perbudakan.


Berita Terkait


News Update