Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)
POSKOTA.CO.ID - Puncak-puncak buah the slavery system atau sistem perbudakan adalah saat adharma, angkara, amoralis, asusila dan astana (5A) mentradisi.
Jika itu terjadi, apa yang akan kita nikmati? Adalah keputusasaan warga negara; lapar dan miskin serta hidup segan mati tak sudi. Itulah keadaan riilnya seperti hari-hari yang sedang kita lalui.
Memang, ekonomi perbudakan hasil imperialisme polanya selalu serupa walau tak sama persis. Dari zaman purba sampai kini, adalah:
- Datang dengan tentara, atau selembar kertas;
- SDA dan SDM dirampok;
- Nilainya diekstraksi;
- Utang ditanamkan;
- Ketergantungan dipelihara;
- Penilaian ditradisikan;
- Klasifikasi dikurikulumkan;
- Hit guys dibariskan;
- KKN diagamakan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Berekonomi tanpa Dividen
Dengan sembilan roadmap ini maka lebih banyak uang kita (kekayaan) mengalir keluar untuk membayar interest on debt (bunga utang) daripada yang masuk sebagai humanitarian aid atau bantuan kemanusiaan.
Jadilah negeri kita sebagai "negeri budak" yang bahagia walau bermandikan paria dan kedunguan. Repotnya keadaan ini dipahami oleh rakyat, bukan oleh pejabat; oleh ummat bukan oleh elite jahat.
Saat bersamaan, rakyat berharap bahwa pemenang pilpres adalah negarawan yang akan melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan. Tak tahunya, mereka adalah pengkhianat konstitusi, penjahat rakyat, pencuri yang nyamar dengan dupa, musuh yang bersembunyi di balik ikatan pribumi, pezina yang sok alim, serdadu yang anti patriotik.
Maka, saat rakyat menghadapi banjir yang datang lebih cepat, longsor yang makin sering, sungai yang mengering di musim kemarau dan meluap di musim penghujan, tanah yang dulu subur dan berhutan lalu rapuh dan tidak mampu lagi memegang air, mereka justru berpesta. KKN makin nyata dan diimani serta ditradisikan menjadi agama dan kebudayaan!
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mengakhiri Mimpi Makmur
Lebih jauh, mereka belum sadar bahwa alat untuk menghancurkan sistem imperialisme sendiri bisa menjadi komoditas yang dijual demi keuntungan. Golek sego lan rupo. Itulah inti dan ontologi bekerjanya imperialisme.
