Menurut Abil, praktik tersebut bertolak belakang dengan peran dan komitmen Komdigi sebagai institusi yang selama ini mengampanyekan perlindungan data pribadi masyarakat Indonesia.
Ia bahkan menilai langkah tersebut telah melanggar prinsip Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang justru diusulkan oleh Komdigi sendiri. "Sudah jelas enggak boleh membongkar data pribadi, tapi ini dia membongkar sendiri," ujar Abil dalam videonya.
Temuan ini memicu kekhawatiran luas di kalangan warganet, terutama bagi para pencari kerja yang menyerahkan dokumen sensitif seperti KTP, CV, hingga data pribadi lainnya tanpa perlindungan memadai.
Serangan Siber Usai Konten Viral

Tak lama setelah konten kritiknya ramai diperbincangkan, Abil mengaku mulai menerima berbagai gangguan digital. Ia menyebut adanya lonjakan trafik mencurigakan hingga ribuan serangan siber yang menargetkan sistem digital perusahaannya.
"Jam 1 siang tadi Ordal nerima sekitar 6.000 serangan siber ya, dan gue enggak mau bilang itu dari siapa, kita masih telursuri digital forensiknya seperti apa," kata Abil seperti yang diunggah akun @folkyogya, Kamis 29 Januari 2026
Meski demikian, Abil menegaskan bahwa serangan tersebut tidak berujung pada pencurian data penting. "Tapi yang jelas dilihat kalau dari motifnya dia enggak ngambil apa-apa," ujarnya.
Diduga Upaya Merusak Situs Perusahaan
Abil meyakini bahwa serangan siber tersebut merupakan upaya sabotase yang sengaja ditujukan untuk merusak situs resmi startup miliknya. "Benar-benar cuma mau merusak ordal.id," imbuhnya.
Ia pun menyayangkan kejadian tersebut, mengingat platform yang dibangunnya bertujuan untuk membuka lapangan pekerjaan. Menurutnya, serangan ini justru menghambat niat baik tersebut. "Sangat disayangkan karena gue bikin start up untuk membuka lapangan pekerjaan, tapi kita disikat habis-habisan," tuturnya.
Baca Juga: Sosok Farah Dibba Shavira, Kakak Lula Lahfah yang Rela Diperjuangkan Sang Adik
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Komdigi terkait dugaan kebocoran data pelamar maupun respons atas serangan siber yang dialami Abil Sudarman.
Kasus ini kini berkembang menjadi sorotan dua isu krusial sekaligus, yakni keamanan data pribadi pelamar kerja dan keselamatan digital pihak yang menyuarakan kritik. Publik pun menanti transparansi serta langkah hukum tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
