Strategi Menkeu Purbaya Perkuat Ekonomi Indonesia di Tengah Pelemahan Rupiah

Selasa 20 Jan 2026, 16:14 WIB
Menkeu Purbaya menyatakan pemerintah fokus pada stabilitas likuiditas, efisiensi belanja, dan perbaikan iklim investasi untuk menjaga daya tahan ekonomi Indonesia. (Sumber: istimewa)

Menkeu Purbaya menyatakan pemerintah fokus pada stabilitas likuiditas, efisiensi belanja, dan perbaikan iklim investasi untuk menjaga daya tahan ekonomi Indonesia. (Sumber: istimewa)

POSKOTA.CO.ID - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan pelemahan rupiah.

Upaya ini dilakukan agar fondasi ekonomi Indonesia tetap solid menghadapi guncangan eksternal yang terus membayangi sejak awal tahun.

Menurut Purbaya, pemerintah bersama Bank Indonesia akan memastikan stabilitas sektor keuangan tetap terjaga. Ia menekankan pentingnya kecukupan likuiditas agar sistem finansial tidak terganggu oleh fluktuasi pasar global.

"Pertama, kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup. BI (Bank Indonesia) dan kita di Kemenkeu juga sudah setuju untuk menjaga itu bersama," ujarnya kepada wartawan di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin 19 Januari 2026.

Baca Juga: Dolar Nyaris Sentuh Rp17.000: Menkeu Purbaya Yakini Rupiah Akan Segera Menguat

Selain menjaga likuiditas, pemerintah juga mempercepat realisasi belanja negara pada awal tahun agar perputaran ekonomi bisa langsung terasa di sektor riil.

Langkah ini diyakini mampu menahan dampak tekanan eksternal dan mendorong pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur positif.

Purbaya menjelaskan, ketika likuiditas di sektor finansial telah stabil, aktivitas ekonomi di sektor riil juga akan ikut meningkat. Ia menilai percepatan belanja dan investasi akan menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional.

"Habis itu, kami akan perbaiki iklim investasi dengan debottleckning. Jadi kita akan perbaiki semuanya. Kita akan perbaiki supply, demand, ekonomi investasi Kebijakan moneter, kebijakan fisikal, sektor riil. Semuanya," tutur dia. "Jadi untuk ekonomi 6 persen tahun ini nggak terlalu sulit."

Baca Juga: Menkeu Purbaya Akan Tambah Layer Cukai Khusus Rokok Produksi Lokal, Begini Skema Terbarunya

Rupiah Sentuh Rekor Terlemah, Investor Cermati Risiko Fiskal

Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga menembus posisi terlemah sepanjang sejarah. Pada penutupan perdagangan pasar spot Senin 19 Januari 2026, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.942 per dolar AS. Bahkan di pasar offshore, rupiah sempat menyentuh Rp17.006 per dolar AS pada pukul 15.29 WIB.

Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk kondisi fiskal nasional yang dinilai memburuk. Defisit fiskal Indonesia tercatat melebar menjadi 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Situasi ini menurunkan minat investor terhadap aset keuangan domestik serta meningkatkan premi risiko Indonesia di pasar global.

Kondisi tersebut juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan, menandakan adanya aksi jual dari investor yang merespons meningkatnya risiko fiskal.

Di sisi lain, sentimen pasar turut dipengaruhi kabar rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan menunjuk Thomas Djiwandono sebagai salah satu kandidat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Saat ini Thomas menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Spekulasi atas kemungkinan masuknya unsur politik dalam kebijakan moneter ke depan menjadi salah satu faktor yang menahan laju penguatan rupiah. Hal ini menambah tekanan di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan Indonesia tahun ini.


Berita Terkait


News Update