Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk kondisi fiskal nasional yang dinilai memburuk. Defisit fiskal Indonesia tercatat melebar menjadi 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Situasi ini menurunkan minat investor terhadap aset keuangan domestik serta meningkatkan premi risiko Indonesia di pasar global.
Kondisi tersebut juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan, menandakan adanya aksi jual dari investor yang merespons meningkatnya risiko fiskal.
Di sisi lain, sentimen pasar turut dipengaruhi kabar rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan menunjuk Thomas Djiwandono sebagai salah satu kandidat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Saat ini Thomas menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Spekulasi atas kemungkinan masuknya unsur politik dalam kebijakan moneter ke depan menjadi salah satu faktor yang menahan laju penguatan rupiah. Hal ini menambah tekanan di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek pertumbuhan Indonesia tahun ini.
