POSKOTA.CO.ID - Nama Indonesia Air Transport (IAT) kembali mencuat ke permukaan setelah salah satu pesawat yang dioperasikannya mengalami insiden fatal di Sulawesi Selatan.
Peristiwa ini membuat publik penasaran tentang latar belakang perusahaan, kepemilikan, hingga rekam jejak operasionalnya di industri penerbangan nasional.
Insiden tersebut melibatkan pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar.
Pesawat itu membawa kru dan penumpang, termasuk sejumlah pegawai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang menjalankan misi pengawasan laut.
Baca Juga: Tim SAR Temukan Satu Korban dan Serpihan Pesawat ATR 42-500 di Medan Ekstrem Sulsel
Beberapa waktu setelah laporan hilang kontak, puing-puing pesawat ditemukan di kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros.
Operasi pencarian dan evakuasi pun langsung dilakukan oleh Basarnas bersama TNI AU dan tim gabungan lainnya. Tragedi ini menjadikan Indonesia Air Transport sebagai perhatian utama di media dan masyarakat.
Profil dan Sejarah Indonesia Air Transport
Indonesia Air Transport merupakan perusahaan jasa penerbangan yang bermarkas di Jakarta dengan basis operasional utama di Bandara Halim Perdanakusuma.
Perusahaan ini tidak melayani penerbangan komersial reguler seperti maskapai pada umumnya, melainkan fokus pada penerbangan charter dan penerbangan khusus sesuai kebutuhan klien.
IAT telah berdiri sejak tahun 1968 dan dikenal sebagai salah satu operator charter tertua di Indonesia. Sejak awal, perusahaan ini diarahkan untuk mendukung sektor-sektor strategis seperti minyak dan gas, pertambangan, serta perusahaan korporasi besar yang membutuhkan akses transportasi udara ke wilayah terpencil.
Dengan pengalaman panjang di industri aviasi, Indonesia Air Transport berkembang menjadi penyedia layanan penerbangan yang fleksibel dan profesional di kawasan Asia Tenggara.
Untuk memperkuat struktur bisnisnya, IAT resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006. Langkah ini membuat perusahaan semakin transparan dan membuka peluang investasi publik di sektor penerbangan charter yang selama ini tergolong niche market.
Baca Juga: DPR Minta Publik Tidak Berspekulasi soal Hilangnya Kontak Pesawat ATR 400
Kepemilikan, Layanan, dan Armada IAT
Dari sisi kepemilikan, Indonesia Air Transport saat ini berada di bawah PT MNC Energy Investments Tbk. Perusahaan ini merupakan bagian dari Grup MNC milik pengusaha Hary Tanoesoedibjo. Masuknya IAT ke dalam ekosistem MNC bertujuan memperluas dukungan bisnis di sektor energi dan industri strategis lainnya.
Sebagai operator penerbangan charter, IAT menawarkan berbagai layanan khusus, mulai dari penerbangan untuk industri minyak dan gas, penyewaan pesawat dan helikopter, hingga penerbangan VIP dan evakuasi medis udara.
Seluruh operasionalnya telah mengantongi sertifikasi resmi Air Operator Certificate (AOC 121) dari otoritas penerbangan Indonesia.
IAT mengantongi Air Operator Certificate (AOC 121) dan menawarkan beragam layanan khusus, di antaranya:
- Penerbangan charter untuk industri ekstraktif dan korporasi.
- Penyewaan pesawat sayap tetap dan helikopter.
- Penerbangan VIP serta misi evakuasi medis udara (medevac).
- Transportasi penumpang dan kargo sesuai permintaan.
Baca Juga: Cuaca Buruk dan Medan Terjal Hambat Evakuasi Pesawat ATR 42-500 di Puncak Bulusaraung
Untuk menunjang layanan tersebut, Indonesia Air Transport mengoperasikan sejumlah armada yang disesuaikan dengan kebutuhan misi klien.
Beberapa di antaranya adalah pesawat turboprop ATR 42-500, jet bisnis Embraer Legacy 600, serta helikopter Airbus EC 155 B1. Kombinasi armada ini memungkinkan IAT melayani rute jarak pendek hingga penerbangan premium dan misi utilitas di wilayah terpencil.
Dengan pengalaman lebih dari lima dekade, Indonesia Air Transport tetap menjadi salah satu pemain penting di sektor penerbangan charter Indonesia.
Meski tidak beroperasi sebagai maskapai penumpang reguler, perannya dalam mendukung sektor industri dan layanan khusus membuat perusahaan ini memiliki posisi strategis di dunia aviasi nasional.
