Salah satu aspek yang paling banyak menyita perhatian publik adalah soal bayaran dan gaji Bripda Muhammad Rio. Berdasarkan pengakuannya kepada rekan-rekannya, Rio menyebut menerima bonus awal pendaftaran sebesar dua juta rubel.
Jika dikonversikan, nilai tersebut setara sekitar Rp420 juta. Selain itu, ia mengklaim memperoleh gaji bulanan sekitar 210 ribu rubel, atau setara Rp42 juta per bulan.
Angka tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan gaji aparat keamanan di Indonesia. Namun, di sisi lain, risiko yang dihadapi juga sangat besar karena ia terjun langsung ke medan perang aktif.
Pangkat dan Posisi di Militer Rusia
Menariknya, Bripda Muhammad Rio mengaku telah mendapatkan pangkat Letnan Dua setelah bergabung dengan legiun tentara asing Rusia. Dalam sejumlah foto yang beredar, ia tampak mengenakan atribut perwira rendah.
Namun, klaim pangkat ini masih menjadi perhatian publik karena struktur kepangkatan militer Rusia berbeda dengan sistem kepolisian dan militer Indonesia, sehingga validitasnya bergantung pada aturan internal Rusia.
Status Keanggotaan di Polri dan Konsekuensi Hukum
Akibat tindakannya, Polri mengambil langkah tegas. Per Januari 2026, Bripda Muhammad Rio resmi diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) oleh Polda Aceh.
Seorang pejabat kepolisian menyatakan,
“Yang bersangkutan terbukti melakukan desersi dan meninggalkan tugas tanpa izin sejak Desember 2025. Statusnya sebagai anggota Polri otomatis gugur.”
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penegakan disiplin dan komitmen institusi terhadap hukum.
Baca Juga: Oknum Anggota Polresta Tangerang Dilaporkan ke Propam, Dugaan Penganiayaan Pacar di Hotel
Lokasi Terakhir dan Respons Pemerintah Indonesia
Berdasarkan penelusuran kepolisian, Bripda Muhammad Rio diduga berada di wilayah Donbass, Ukraina, yang dikenal sebagai garis depan konflik Rusia–Ukraina. Divisi Hubungan Internasional Polri bersama NCB Interpol Indonesia telah berkoordinasi dengan otoritas Rusia di Moskow untuk memverifikasi keberadaannya.
