POSKOTA.CO.ID - Dalam sebuah warteg, tiga sahabat, bung Heri, mas Bro dan bang Yudi, terlibat obrolan akhir pekan.
Terlihat serius, karena yang dibahas soal kritik kepada pemerintah, elite politik, dan pejabat publik. Sementara yang mengkritik, tak lepas pula dari kritik. Jadilah saling kritik.
Tampak santai, karena ketiga sohib tadi tidak termasuk dalam lingkaran saling kritik atau ingin masuk menjadi bagian di dalamnya.
"Kami tidak ingin ikut-ikutan mengkritik hanya karena solider sesama teman," tegas bung Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Ada Kemauan, Ada Jalan
"Kami juga tidak ingin terlibat saling debat, karena tidak tahu persis apa sejatinya masalah yang sedang diperdebatkan," ujar Yudi.
"Intinya kita harus punya sikap. Jangan cuma ikut-ikutan agar dianggap sebagai teman seperjuangan," urai mas Bro.
"Meski begitu bukan berarti kita tidak boleh mengkritik. Bahkan, kritik wajib dilakukan jika kebijakan yang digulirkan merugikan rakyat, kian membebani rakyat," kata Heri.
"Kritik diperlukan bagi setiap orang, siapapun dia, apapun status dan latar belakangnya untuk perbaikan. Untuk kemajuan, bukan kemunduran," kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Penyeimbang Kekuasaan
"Tapi kritik harus dengan baik dan benar, penuh etika dan kesopanan. Dilakukan secara mendasar, dilandasi data, realita dan fakta yang sebenarnya. Bukan hanya bertengger di atas dasar berita hoaks," kata Heri mengingatkan.
"Setuju. Kalau sumber informasi untuk mengkritik berasal dari hoaks, maka isi kritikan menjadi dua kali lebih hoaks," kata Yudi.
"Itulah perlunya kroscek agar tidak terjebak pada kritikan yang didasari kebencian dan balas dendam ," pinta Heri.
"Negara kita yang menganut Demokrasi Pancasila, senantiasa mengembangkan sikap saling mengoreksi, saling mengingatkan tapi tujuannya tadi, untuk kebaikan dan kemajuan bersama," ujar mas Bro.
"Maknanya, budaya saling mengoreksi yang penuh etika perlu kita jaga dan rawat bersama sebagai jati diri bangsa yang sudah ada dan diterapkan sejak dulu kala oleh para leluhur kita," tambah mas Bro
"Ingat! mengoreksi adalah memperbaiki, bukan menjerumuskan. Bukan pula mencari-cari kesalahan. Jadi kalau kalian ingin mengoreksi teman, semata untuk kebaikan, bukan menghancurkan," pinta Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Penyeimbang Kekuasaan
"Sebaliknya kalian jangan alergi dikoreksi, jangan lantas emosi, terlebih marah- marah. Ada pepatah mengatakan: Jangan bertanya siapa yang mengoreksi kita, tetapi hendaknya introspeksi, mengapa mereka mengoreksi kita, " kata mas Bro.
"Aneh, jika ada elite dikritik rakyat bukannya bilang thank you, malah marah," sindir Yudi. (Joko Lestari)
