"Setuju. Kalau sumber informasi untuk mengkritik berasal dari hoaks, maka isi kritikan menjadi dua kali lebih hoaks," kata Yudi.
"Itulah perlunya kroscek agar tidak terjebak pada kritikan yang didasari kebencian dan balas dendam ," pinta Heri.
"Negara kita yang menganut Demokrasi Pancasila, senantiasa mengembangkan sikap saling mengoreksi, saling mengingatkan tapi tujuannya tadi, untuk kebaikan dan kemajuan bersama," ujar mas Bro.
"Maknanya, budaya saling mengoreksi yang penuh etika perlu kita jaga dan rawat bersama sebagai jati diri bangsa yang sudah ada dan diterapkan sejak dulu kala oleh para leluhur kita," tambah mas Bro
"Ingat! mengoreksi adalah memperbaiki, bukan menjerumuskan. Bukan pula mencari-cari kesalahan. Jadi kalau kalian ingin mengoreksi teman, semata untuk kebaikan, bukan menghancurkan," pinta Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Penyeimbang Kekuasaan
"Sebaliknya kalian jangan alergi dikoreksi, jangan lantas emosi, terlebih marah- marah. Ada pepatah mengatakan: Jangan bertanya siapa yang mengoreksi kita, tetapi hendaknya introspeksi, mengapa mereka mengoreksi kita, " kata mas Bro.
"Aneh, jika ada elite dikritik rakyat bukannya bilang thank you, malah marah," sindir Yudi. (Joko Lestari)
