BANDUNG, POSKOTA.CO.ID - Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya sholat sebagai fondasi utama kehidupan umat Islam. Tidak hanya dalam aspek ibadah, tetapi moral sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
Demikian diungkapkan Dewan Penasihat DPP Persatuan Umat Islam (PUI), KH. Achmad Tjachja Nugraha dalam kegiatan Isra Mi’raj di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 17 Januari 2026.
Achmad mengatakan, Isra Mi’raj harus turut dimaknai sebagai langkah perubahan perilaku umat dalam kehidupan sehari-hari.
"Tidak ada ibadah lain yang perintahnya disampaikan secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW selain sholat. Ini menunjukkan sholat adalah penghubung utama antara manusia dan Allah," kata Achmad, Sabtu, 17 Januari 2026.
Baca Juga: Libur Panjang Isra Miraj, Supeltas Diterjunkan Bantu Wisatawan di Jalur Alternatif Puncak Bogor
Menurutnya, sholat tidak cukup dijalankan secara formal. Kelalaian dalam sholat, kata dia, kerap berbanding lurus dengan kelalaian dalam amanah sosial.
"Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang orang-orang yang lalai terhadap sholatnya. Sebaliknya, mereka yang menjaga sholat akan mendapat pujian," ujarnya.
Ia menjelaskan, sholat yang benar akan melahirkan keseimbangan antara ibadah ritual dan aktivitas duniawi. Islam mendorong umat aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi dengan tetap mengingat Allah.
"Sholat harus melahirkan etos kerja, kejujuran, dan tanggung jawab sosial," ucapnya.
Baca Juga: Polres Bogor Bakal Terapkan Gage dan One Way di Jalur Puncak saat Libur Panjang Isra Miraj
Ia juga menyoroti keterkaitan antara kualitas sholat umat dengan maraknya bencana dan kerusakan lingkungan. Ia menilai banyak bencana alam tidak lepas dari perilaku manusia yang mengabaikan nilai-nilai ilahiah.
"Sholat bukan hanya ibadah personal, tetapi fondasi etika sosial dan ekologis. Ketika sholat ditinggalkan atau dijalankan tanpa kesadaran moral, manusia kehilangan kendali spiritual dalam mengelola alam," katanya.
Menurutnya, sholat yang dijaga dengan baik akan membentuk kesadaran manusia, adalah khalifah di bumi, bukan perusak. Nilai disiplin dan ketundukan dalam sholat seharusnya tercermin dalam sikap adil terhadap alam dan tidak serakah dalam eksploitasi sumber daya.
Sementara itu, bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga krisis pangan bukan semata-mata faktor alam, tetapi hubungan manusia dengan Allah dan lingkungan.
"Kalau sholat benar-benar hidup, seseorang tidak akan tega merusak hutan, mencemari sungai, atau menghilangkan hak generasi mendatang," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan, peringatan Isra Mi’raj ini harus dijadikan momentum muhasabah untuk menguatkan kembali sholat sebagai sumber nilai spiritual, moral, sosial, dan ekologis.
Baca Juga: Jasa Marga Catat 176.409 Kendaraan Kembali ke Jabodetabek Pasca Libur Isra Miraj dan Imlek
"Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa langit, tetapi pesan bumi. Bangun peradaban dengan sholat yang hidup dalam perilaku dan kepedulian terhadap sesama serta alam," tuturnya. (gat)
