"Sholat bukan hanya ibadah personal, tetapi fondasi etika sosial dan ekologis. Ketika sholat ditinggalkan atau dijalankan tanpa kesadaran moral, manusia kehilangan kendali spiritual dalam mengelola alam," katanya.
Menurutnya, sholat yang dijaga dengan baik akan membentuk kesadaran manusia, adalah khalifah di bumi, bukan perusak. Nilai disiplin dan ketundukan dalam sholat seharusnya tercermin dalam sikap adil terhadap alam dan tidak serakah dalam eksploitasi sumber daya.
Sementara itu, bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga krisis pangan bukan semata-mata faktor alam, tetapi hubungan manusia dengan Allah dan lingkungan.
"Kalau sholat benar-benar hidup, seseorang tidak akan tega merusak hutan, mencemari sungai, atau menghilangkan hak generasi mendatang," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan, peringatan Isra Mi’raj ini harus dijadikan momentum muhasabah untuk menguatkan kembali sholat sebagai sumber nilai spiritual, moral, sosial, dan ekologis.
Baca Juga: Jasa Marga Catat 176.409 Kendaraan Kembali ke Jabodetabek Pasca Libur Isra Miraj dan Imlek
"Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa langit, tetapi pesan bumi. Bangun peradaban dengan sholat yang hidup dalam perilaku dan kepedulian terhadap sesama serta alam," tuturnya. (gat)
