Kata Isnawa, BMKG juga telah merilis peringatan secara nasional terkait potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Februari 2026.
"Hal lain adanya imbauan tentang cuaca dari BMKG, surat antisipasi bencana dari BNPB dan arahan gubernur. BMKG juga telah menyampaikan rilis se-Indonesia terkait potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrim sampai akhir Februari 2026,” tutur Isnawa.
"BMKG sampaikan release se-Indonesia termasuk potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrim sampai dengan akhir Februari tahun 2026," ungkap Isnawa.
Sebagai tambahan informasi, pelaksanaan OMC ini banyak digunakan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengisian waduk, namun dalam perkembangannya juga terbukti efektif untuk memprematurkan cuaca.
Berdasarkan data sepanjang tahun 2024 dan 2025, OMC dinilai mampu meminimalkan potensi kerugian dan kerusakan infrastruktur daerah seperti jalan rusak, sekolah terdampak, sawah terendam, hingga terganggunya aktivitas ekonomi akibat kemacetan panjang yang dalam beberapa kasus bisa mencapai ratusan kilometer.
"Kemarin dapet info OMC di Kalimantan, Jateng, Jatim, Jabar, bisa minimalisir kerugian kerusakan infrastruktur daerah seperti jalan rusak, sekolah, sawah, sampai dengan aktifitas ekonomi seperti macet itu data sepanjang 2024 dan 2025," kata Isnawa.
Tahapan Pelaksanaan OMC

Secara teknis, pelaksanaan OMC dilakukan melalui beberapa tahapan utama sebagai berikut ini:
- Analisis Kondisi Atmosfer
Sebelum operasi dilaksanakan, BMKG bersama BPBD, BNPB, dan TNI AU melakukan analisis meteorologis secara komprehensif. Analisis ini meliputi pemantauan awan hujan, arah dan kecepatan angin, kelembapan udara, tekanan atmosfer, hingga potensi pertumbuhan awan konvektif.
Dari hasil analisis tersebut ditentukan waktu, lokasi, serta strategi penyemaian awan yang paling efektif.
- Penentuan Target Awan
Tidak semua awan dapat disemai. OMC hanya dilakukan pada awan yang memiliki potensi hujan dan berada pada fase pertumbuhan yang sesuai.
Target awan biasanya berada di hulu wilayah rawan banjir atau diarahkan ke wilayah yang relatif aman seperti perairan terbuka, laut, atau kawasan hutan, sehingga hujan tidak terkonsentrasi di area padat penduduk.
- Penyemaian Bahan Semai
Penyemaian dilakukan menggunakan pesawat milik TNI AU dengan membawa bahan semai, umumnya berupa garam (NaCl). Garam disemai ke dalam awan untuk mempercepat proses pembentukan butir hujan.
