Baca Juga: Tutorial Prompt Edit Foto Polaroid AI Bergaya Masa Kecil dengan Gemini
Jumlah tersebut melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada penutupan 2025, dengan kurs sekitar 45.215 rial per rupiah, nominal rupiah yang sama yakni Rp1 juta hanya menghasilkan sekitar 45,2 miliar rial.
Artinya, hanya dalam waktu singkat terjadi kenaikan lebih dari 14,4 miliar rial, semata-mata akibat kejatuhan nilai mata uang Iran.
Melansir data Refinitiv, pada akhir 2025 sendiri US$1 masih setara sekitar 45.000 rial.
Namun, memasuki awal 2026 tepatnya pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026, nilai tukar tersebut anjlok tajam hingga US$1 setara 1,04 juta rial, atau melemah sekitar 2.388 persen hanya dalam waktu kurang dari setahun.
Lantas, kenapa Rial Iran melemah hingga membuat nilai lonjakan kepada mata uang lainnya?
Kenapa Rial Iran Lemah?
Penyebab utama jatuhnya nilai tukar ini adalah sanksi internasional yang kembali diperketat sejak tahun 2025.
Mengutip informasi dari laporan Euronews, sanksi tersebut mencakup embargo senjata, pembatasan program rudal balistik, hingga pembekuan aset-aset strategis di luar negeri.
Sanksi ini secara otomatis menutup akses Iran ke sistem perbankan global (SWIFT), sehingga cadangan devisa negara menipis akibat kesulitan melakukan transaksi perdagangan internasional secara legal.
Krisis mata uang Iran juga berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Mengutip data ekonomi tahunan, tingkat inflasi umum di negara tersebut berada di angka 40 persen, namun sektor pangan mengalami lonjakan yang jauh lebih ekstrem.
Di mana, harga bahan pangan rata-rata melonjak hingga 72 persen dalam satu tahun terakhir.
