JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Penurunan tanah (land subsidence) menjadi salah satu persoalan lingkungan paling serius yang dihadapi Jakarta. Fenomena ini berlangsung perlahan namun konsisten, bahkan di sejumlah wilayah tercatat mencapai beberapa sentimeter per tahun.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada kerusakan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan risiko banjir, rob, dan krisis permukiman. Berbagai penelitian menyebutkan penurunan tanah di Jakarta dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.
Pengambilan air tanah berlebihan, beban bangunan tinggi, serta kondisi geologi dataran aluvial menjadi penyebab utama. Namun di tengah pembangunan masif dan perubahan iklim, ancaman ini kerap luput dari perhatian publik.
Sejumlah warga di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara turut merasakan efek dari penurunan tanah tersebut. Salah satunya Adinda (47), yang telah tinggal di kawasan tersebut selama delapan tahun terakhir. Ia mengaku mulai merasakan dampak penurunan tanah secara nyata dalam tiga tahun terakhir.
Baca Juga: SDN 03 Sukasari Rumpin Bogor Dibobol Maling, Proyektor hingga Kipas Angin Raib
“Banyak, sudah berapa kali saya banjir rob. Kalau sudah rob itu, gatal-gatal semua badan,” kata Adinda pada Minggu, 11 Januari 2025.
Meski kerap terdampak rob, ia tetap bertahan karena tuntutan ekonomi. Adinda bekerja di kawasan pelabuhan, sehingga mau tidak mau harus tetap tinggal di sekitar lokasi tersebut.
“Kalau enggak bekerja, dari mana biaya makan kita sehari-hari?” ujarnya.
Tak hanya rob, dampak paling mencolok terlihat pada kondisi rumah yang ia tempati. Pondasi bangunan yang baru selesai dibangun sekitar setahun lalu sudah mengalami retakan serius. Retakan bahkan terlihat memanjang ke bawah dan terus melebar meski telah berulang kali ditambal.
Baca Juga: Bina Marga DKI Sebut Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Mulai Rabu Depan
“Ini rumah baru dibangun, tapi sudah retak. Ditambal, retak lagi. Kelihatan banget penurunan tanahnya,” ungkap Adinda.
