Memoar ini juga memuat pengakuan tentang kekerasan fisik yang dialami Aurelie, meski disampaikan tanpa detail eksplisit. Pendekatan ini menunjukkan kehati-hatian penulis agar tetap menghormati pembaca sekaligus menjaga integritas pengalaman personalnya.
Bagian paling sensitif dalam buku adalah ketika Aurelie menyinggung kekerasan dan eksploitasi seksual. Ia menggambarkan situasi di mana batasan pribadi dan persetujuan kerap diabaikan. Narasi ini menyoroti pentingnya edukasi mengenai consent dan perlindungan remaja dalam relasi dengan figur dewasa.
Baca Juga: SDN 03 Sukasari Rumpin Bogor Dibobol Maling, Proyektor hingga Kipas Angin Raib
Proses Grooming terhadap Remaja dan Dampak Trauma Jangka Panjang
Aurelie juga mengulas proses grooming, yakni pendekatan bertahap yang dilakukan Bobby sebagai orang dewasa untuk membangun kepercayaan korban yang masih belia. Dengan memanfaatkan ambisi Aurelie yang kala itu tengah merintis karier di dunia hiburan, relasi kuasa pun terbentuk secara timpang.
Dampaknya tidak berhenti ketika hubungan berakhir. Broken Strings menyoroti trauma masa kecil, kehilangan rasa aman, serta luka emosional yang terbawa hingga dewasa.
Tema ini relevan dengan diskursus kesehatan mental, khususnya mengenai post-traumatic stress dan pemulihan psikologis penyintas kekerasan.
Kehadiran Broken Strings memicu percakapan luas mengenai tanda-tanda hubungan tidak sehat, grooming, dan pentingnya dukungan bagi penyintas.
Dengan membagikan bukunya secara gratis, Aurelie menunjukkan komitmen untuk menjangkau lebih banyak pembaca, terutama mereka yang mungkin mengalami situasi serupa.
“Jika kisah saya bisa membuat satu orang saja merasa tidak sendirian, maka buku ini sudah menjalankan tujuannya,” ungkap Aurelie melalui akun Instagram resminya (@aurelie), dikutip dari pernyataan tertulis yang menyertai perilisan buku tersebut.
Pernyataan dan informasi unduhan buku dari Instagram resmi Aurelie Moeremans (@aurelie).
