IHSG Menuju 10.000? Menkeu Purbaya Beberkan Sinyal Optimisme Pasar Saham 2026

Rabu 07 Jan 2026, 14:34 WIB
Purbaya Yakin IHSG Bisa Naik ke 10 Ribu, Apa Dampaknya? (Sumber: Instagram/@purbaya)

Purbaya Yakin IHSG Bisa Naik ke 10 Ribu, Apa Dampaknya? (Sumber: Instagram/@purbaya)

POSKOTA.CO.ID - Pagi itu, lantai Bursa Efek Indonesia di Jakarta Selatan tidak hanya dipenuhi deru langkah investor dan layar perdagangan yang berkilat. Ada optimisme yang mengendap di udara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, melontarkan sebuah proyeksi berani berupa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menembus level 10.000 pada 2026.

Pernyataan itu bukan sekadar angka. Ia adalah perencanaan dari keyakinan pemerintah terhadap fondasi ekonomi nasional yang dinilai semakin solid, didukung koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kian selaras.

“Tahun ini (IHSG sentuh level) 10 ribu, itu bukan angka yang mustahil dicapai,” ujar Purbaya saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Jumat, 2 Januari 2026.

Baca Juga: Tzu Chi Hospital Milik Siapa? Viral Pelayanan BPJS di PIK Tuai Pujian Warganet

Fondasi Ekonomi yang Dinilai Kian Kuat

Optimisme Purbaya berangkat dari pengalaman panjangnya mengamati denyut ekonomi Indonesia. Menurut dia, kondisi saat ini jauh lebih baik dibanding periode-periode sebelumnya yang dibayangi tekanan global, mulai dari pandemi hingga ketegangan geopolitik.

Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu kunci. Sinkronisasi kebijakan fiskal melalui belanja negara dan stimulus ekonomi dengan kebijakan moneter BI dinilai menciptakan ruang pertumbuhan yang lebih luas.

“Kalau saya lihat fondasi ekonominya yang sudah ada membaik, sekarang tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan BI sudah amat sinkron. Harusnya ekonomi akan tumbuh lebih cepat,” kata Purbaya.

Rekor Baru IHSG: Sinyal atau Sekadar Euforia?

Pasar seolah merespons optimisme tersebut. Pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026 IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high). Indeks sempat menyentuh level 8.940 sebelum akhirnya ditutup di 8.933,6.

Bagi sebagian pelaku pasar, rekor ini menjadi sinyal bahwa sentimen positif masih mendominasi. Namun bagi investor jangka panjang, angka tersebut memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah tren ini berkelanjutan atau hanya euforia sesaat?

Lonjakan IHSG kerap dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global mulai dari suku bunga, arus modal asing, hingga stabilitas geopolitik.

Pengamat pasar modal Indonesia, Reydi Octa, menilai masih ada sejumlah faktor krusial yang akan terus dicermati investor sepanjang 2026.

Di antaranya adalah arah kebijakan suku bunga, perkembangan geopolitik global, serta laju pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat global maupun domestik.

Menurutnya, performa saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) serta derasnya arus dana asing terutama setelah porsi kepemilikan investor asing di IHSG berada pada level minoritas akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan indeks ke depan.

Peran Suku Bunga dan Dinamika Global

Selain stimulus, faktor suku bunga menjadi perhatian utama investor. Peluang pemangkasan suku bunga Bank Indonesia seiring tren global yang juga membuka ruang pelonggaran kebijakan The Fed dipandang sebagai katalis tambahan.

Penurunan suku bunga umumnya membuat instrumen berisiko seperti saham menjadi lebih menarik dibandingkan simpanan berbunga tetap. Arus dana pun berpotensi mengalir ke pasar modal.

“Belum lagi juga ke depannya semestinya dinamika geopolitik juga mulai berjalan stabil. Ini juga menjadi katalis positif bagi penguatan indeks,” kata Nafan. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas

Stabilitas geopolitik global dapat menurunkan volatilitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap emerging market seperti Indonesia.

Baca Juga: Rencana Aktivasi Jalur KA Cipatat - Padalarang Dialihkan Tak Lewati Tagogapu

Apakah Target 10.000 Terlalu Ambisius?

Secara matematis, lonjakan dari kisaran 8.900 ke 10.000 membutuhkan penguatan signifikan. Namun, dalam perspektif jangka menengah, target tersebut bukan tanpa preseden.

Beberapa negara berkembang lain pernah mencatat lonjakan indeks tajam saat momentum ekonomi, likuiditas, dan sentimen bertemu di satu titik.

Yang membedakan adalah kualitas pertumbuhan. Investor tidak hanya mencari kenaikan indeks, tetapi juga keberlanjutan laba emiten, stabilitas makroekonomi, dan kepastian kebijakan.

Catatan Risiko yang Tetap Perlu Diwaspadai

Meski optimisme menguat, risiko tetap ada. Perlambatan ekonomi global, gejolak geopolitik yang tak terduga, hingga perubahan kebijakan moneter global bisa memengaruhi laju IHSG.

Bagi investor ritel, proyeksi 10.000 sebaiknya diperlakukan sebagai skenario optimistis, bukan kepastian. Diversifikasi portofolio dan manajemen risiko tetap menjadi kunci.

Pernyataan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberi narasi besar: bahwa Indonesia memasuki fase ekonomi yang lebih matang dan percaya diri. Apakah IHSG benar-benar menembus 10.000 pada 2026 akan ditentukan oleh konsistensi kebijakan, respons pasar, dan dinamika global.

Namun satu hal jelas optimisme kini memiliki fondasi yang lebih kokoh dibanding masa lalu. Dan bagi pasar, keyakinan sering kali menjadi bahan bakar pertama sebelum angka-angka menyusul.


Berita Terkait


News Update