“Saya tidak boleh memuji diri sendiri. Maka dari itu, saya mengundang Kang Pandji datang ke Jawa Barat. Silakan keliling melewati jalan-jalan provinsi dan lihat langsung hasilnya di berbagai daerah,” ujar Dedi dalam unggahannya yang dikutip Poskota, pada 5 Januari 2026.
Pernyataan KDM sontak menuai beragam reaksi dari masyarakat. Banyak warganet yang mengapresiasi respons tersebut karena dinilai elegan, dewasa, dan tidak emosional. Sikap KDM dianggap menunjukkan keterbukaan terhadap kritik publik.
Namun, ada pula yang menilai tantangan ini sebagai strategi komunikasi politik yang cerdas. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat citra KDM sebagai pemimpin yang percaya diri dengan hasil kerjanya.
Baca Juga: Istri Mansyur S Meninggal Dunia, Elvy Sukaesih Sampaikan Belasungkawa
Julukan “Gubernur Konten” dan Gaya Kepemimpinan Digital
Julukan “gubernur konten” sebenarnya bukan hal baru bagi KDM. Ia dikenal aktif membagikan aktivitasnya sebagai kepala daerah melalui berbagai platform media sosial dengan jutaan pengikut.
Bagi sebagian masyarakat, gaya komunikasi ini membuat KDM terlihat dekat dengan publik dan relevan dengan generasi digital. Namun, sebagian lainnya menilai aktivitas tersebut terlalu menonjolkan pencitraan dibandingkan substansi kebijakan.
Hingga saat ini, Pandji Pragiwaksono belum memberikan respons langsung atas undangan KDM tersebut. Publik pun menanti apakah sang komika akan menerima tantangan untuk melihat langsung pembangunan Jawa Barat atau justru kembali menyampaikan kritik lewat panggung komedi.
Yang jelas, polemik ini telah menjadi salah satu isu paling ramai di awal tahun. Pertemuan antara dunia hiburan dan politik ini memperlihatkan bagaimana kritik, respons, dan konten dapat membentuk opini publik dalam waktu singkat di era digital.
