Menurutnya, roadmap tersebut harus mencakup tiga dimensi penguatan kapasitas pemuda yakni, pengetahuan (Knowledge Capacity) melalui pelatihan bisnis, legalitas usaha, dan literasi teknologi; keterampilan (Skill Capacity) seperti produksi, digital marketing, negosiasi, dan public speaking dan; sumber daya (Resource Capacity), mulai dari akses modal, akses pasar, hingga pendampingan teknologi.
“Pemuda harus dibekali kemampuan inovasi, kreativitas, dan toleransi terhadap risiko agar mampu bertahan dan tumbuh. Kita ingin mereka menjadi entrepreneur sejati, bukan hanya pedagang,” kata Abdul Karim.
Pengembangan Potensi Lokal
Abdul Karim juga menekankan pentingnya mendorong usaha pemuda pada sektor-sektor yang menjadi keunggulan daerah. Ia menilai pengembangan kewirausahaan harus berbasis pada keunggulan komparatif sekaligus keunggulan kompetitif.
“Tanah Cianjur subur dan punya banyak komoditas unggulan. Tapi jangan berhenti pada menjual bahan mentah. Pemuda harus didorong masuk ke hilirisasi, pengolahan, dan inovasi produk agar nilai tambahnya lebih besar,” ujarnya.
Adapun sektor potensial yang dapat dikembangkan pemuda antara lain dikatakannya, yaitu agro-industri berbasis Padi Pandanwangi, kopi, dan hortikultura; pariwisata komunitas, termasuk homestay, pemandu wisata, dan layanan pendukung; ekonomi kreatif, seperti kerajinan, kuliner khas, hingga konten digital; ekosistem pentahelix harus dioptimalkan.
Dalam pemaparannya, Abdul Karim menyoroti perlunya sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Kolaborasi Pentahelix ini disebutnya sebagai kunci keberhasilan pembangunan ekosistem kewirausahaan yang terpadu.
“Selama ini program pelatihan dari dinas sering berhenti di satu tahap. Tidak ada inkubasi, tidak ada follow-up. Akhirnya banyak usaha muda yang mati di tahun pertama. Ini harus diubah,” katanya.
Ia pun mendesak Pemkab Cianjur untuk menjadikan penguatan youthpreneurship sebagai prioritas pembangunan, mengingat perannya yang signifikan dalam mengurangi pengangguran, meningkatkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP), dan menggairahkan ekonomi lokal.
Mengakhiri paparan, Abdul Karim berharap hasil kajian yang disampaikan dapat menjadi panduan konkret bagi Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam merumuskan kebijakan penguatan kewirausahaan pemuda.
“Kalau Cianjur ingin maju, maka pemudanya harus diberdayakan. Dengan roadmap yang tepat, potensi daerah yang kaya, dan ekosistem yang solid, saya optimistis Cianjur dapat melahirkan banyak wirausaha muda yang kompetitif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia memastikan, akan terus mengawal kebijakan ini melalui fungsi pengawasan dan legislasi di DPRD Jawa Barat.
