Tidak hanya puing, dokumentasi foto yang menampilkan kronologi kejadian, dari kondisi halte pascakerusakan, proses pembersihan, hingga gotong royong warga dan PPSU, juga turut dipamerkan, menceritakan sebuah narasi lengkap tentang kehancuran dan kebangkitan.
Baca Juga: Gudang Perabot di Samping Pasar Babelan Ludes Terbakar, Kerugian Capai Puluhan Juta
Wajah Baru yang Modern dan Inklusif

Secara desain, Halte Jaga Jakarta kini tampil lebih modern dengan dominasi warna biru yang menyejukkan. Halte ini dilengkapi dengan enam gate akses masuk dan keluar untuk mengoptimalkan arus penumpang.
Fasilitasnya juga ditingkatkan dengan penambahan musala dan tiga toilet terpisah yang diperuntukkan bagi pria, wanita, dan disabilitas, menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas.
Pada fasad luar, tulisan besar “Jaga Jakarta” berdampingan dengan logo TransJakarta, diikuti pesan peringatan yang menyentuh: "Ketika kita menjaga halte, kita juga menjaga hak setiap orang untuk memiliki ruang yang aman dan nyaman. Ketika kita merawat fasilitas umum, kita merawat masa depan kota kita."
Baca Juga: BEM UI Geruduk DPR RI Jakarta Hari Ini 9 September 2025, Demo Tagih 17+8 Tuntutan Rakyat
Pemulihan Kilat dan Kembali ke Normalitas
Pramono juga menyampaikan kabar gembira terkait pemulihan infrastruktur transportasi ibu kota. Seluruh 22 halte Transjakarta yang rusak telah berhasil diperbaiki dan beroperasi normal dalam waktu kurang dari tujuh hari. Perbaikan halte ditanggung oleh Transjakarta dengan estimasi dana Rp 19-20 miliar.
"Hari ini seluruh aktivitas transportasi di Jakarta sudah normal semuanya. Termasuk halte yang ada di Polda Metro Jaya, kemudian di Mandiri, Istora, dan semuanya sudah normal kembali. Tarif sudah normal kembali, mudah-mudahan kehidupan masyarakat Jakarta sudah normal kembali," pungkas Gubernur menutup pernyataannya.
Halte Jaga Jakarta kini bukan sekadar nama. Ia adalah sebuah ikrar, sebuah pengingat visual, dan sebuah harapan agar semangat menjaga bersama selalu mengalahkan hasrat untuk merusak.
