POSKOTA.CO.ID - Di Indonesia, komika sering dianggap sebagai penghibur semata. Namun, sejarah mencatat bahwa komedi juga bisa menjadi medium kritik sosial.
Pada Kamis, 28 Agustus 2025, Kemal Palevi komika berusia 36 tahun menjadi pusat perhatian setelah menyuarakan keresahannya terkait kondisi politik dan sosial negeri ini.
Tidak seperti biasanya yang membalut kritik dengan humor, kali ini Kemal tampil lugas, bahkan getir. Kritiknya terasa seperti suara rakyat kecil yang lelah, pasrah, tetapi tetap ingin didengar.
Baca Juga: Uji Coba Teknologi PLIS Resmi Dimulai di Transjakarta, Begini Harapan Warga Bekasi–Jakarta
Pemerintah Dinilai Semena-Mena
Kemal membuka komentarnya dengan kalimat menohok:
“Karena mereka tahu kita enggak bisa ngapa-ngapain. Kita itu dibungkam.”
Pernyataan ini mencerminkan rasa frustasi masyarakat yang merasa aspirasi mereka tidak pernah sampai. Menurut Kemal, para politisi seolah tidak khawatir terhadap konsekuensi dari tindakannya, sebab mereka yakin rakyat tidak akan melakukan sesuatu yang bisa merusak karier politik.
Kritik ini adalah simbol bahwa rakyat ingin didengar, tetapi ruang partisipasi publik kerap terasa sempit. Ada jarak emosional yang semakin jauh antara rakyat dan penguasa.
Cancel Culture yang Mandek di Indonesia
Kemal juga menyoroti bahwa fenomena cancel culture tidak benar-benar berjalan di Indonesia. Politisi yang pernah terjerat kasus hukum bisa dengan mudah kembali mencalonkan diri lima tahun kemudian.
“Mereka tahu kita itu rakyat pelupa sama kasus-kasus mereka. Lebih tepatnya bukan lupa sih,” katanya.
Pernyataan ini menyinggung budaya memaafkan sekaligus melupakan yang sering melekat pada masyarakat Indonesia. Ada dilema apakah melupakan adalah tanda pemaafan yang tulus, atau justru bentuk pasrah karena tak ada kuasa melawan sistem?