Kemal menyindir cara isu publik kerap digeser dengan kasus baru. Ia mencontohkan bagaimana publik teralihkan oleh skandal besar lain, sementara di balik layar, hukuman narapidana korupsi bisa dipangkas karena momentum perayaan nasional.
Pada HUT RI ke-80, Presiden Prabowo Subianto memberikan amnesti kepada sejumlah narapidana besar, termasuk Hasto Kristiyanto (kasus korupsi) dan Yulius Paonganan (kasus ITE).
Kemal menggambarkan hal ini dengan satire:
“Tahu-tahu ada koruptor yang balik ke parpol mereka atau balik lagi ke pemerintahan.”
Hal ini menimbulkan keputusasaan. Ketika keadilan seakan bisa dinegosiasikan, bagaimana nasib mereka yang tidak punya kuasa?
Rakyat yang Hanya Bisa Bertahan
Di tengah kondisi tersebut, Kemal memberikan saran satir: rakyat sebaiknya hanya berusaha bertahan dari hari ke hari.
“Karena memang jadi rakyat di negara ini itu serba salah gitu.”
Pernyataan ini mengandung nuansa ironi. Hidup sebagai rakyat biasa di Indonesia kerap dirasakan seperti “berjuang untuk bertahan”, bukan “berjuang untuk maju.” Kondisi ini sangatlah miris, sebab ketika kesulitan menjadi hal yang normal, bertahan hidup saja sudah dianggap pencapaian.
Risiko Menyuarakan Aspirasi
Kemal juga menyinggung risiko yang dihadapi warga saat menyampaikan aspirasi di jalan.
“Begitu kita turun ke jalan, kita menyampaikan aspirasi lewat demo, eh pemerintahnya WFH.”
Sindiran ini menyoroti jurang komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Demonstrasi mahasiswa dan buruh sering dianggap anarkis, bahkan dibilang sebagai bukti kualitas SDM yang rendah. Padahal, demo adalah salah satu bentuk aspirasi demokrasi yang sah.
Hal ini membuat rakyat gamang menyuarakan aspirasi dianggap salah, diam saja pun tetap menderita.