Kemal menutup kritiknya dengan menyentil kasus korupsi kuota haji.
“Boro-boro takut dosa korupsi. Sama dosa korupsi kuota haji aja mereka enggak takut.”
Kritik ini menohok karena menyentuh aspek spiritual ibadah haji adalah sesuatu yang sakral bagi umat Islam, namun masih bisa menjadi lahan korupsi. Dari sudut pandang manusia, hal ini melukai nurani rakyat yang menempatkan haji sebagai puncak kesucian.
Menariknya, komentar Kemal justru memantik reaksi beragam dari warganet. Banyak yang kaget karena ia menyampaikan kritik serius tanpa punchline khas komedi.
“Udah ditungguin sampai ujung, kirain ada punchline-nya.”
“Omongan lo sama ama yang di pikiran saya. Uda pasrah aja.”
“Terus speak up bang @kemalpalevi.”
Respon ini menunjukkan bahwa suara Kemal dianggap mewakili keresahan banyak orang. Komika yang biasanya jadi penghibur kini menjelma menjadi corong suara rakyat.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Pamer Kemewahan
Ketika Satire Menjadi Cermin Sosial
Dari sisi kemanusiaan, Kritik Kemal Palevi bisa dilihat sebagai cermin sosial. Ia bukan hanya berbicara sebagai komika, tetapi sebagai warga negara yang merasakan ketidakadilan. Kritiknya mencerminkan beberapa hal penting:
- Kejenuhan publik terhadap praktik politik yang berulang.
- Kesenjangan kekuasaan antara rakyat dan penguasa.
- Budaya melupakan yang memperparah siklus korupsi.
- Kerinduan rakyat akan keadilan yang nyata, bukan hanya jargon.
Komika seperti Kemal berperan penting dalam menyuarakan hal-hal yang jarang diucapkan tokoh publik lain. Dengan medium satire, pesan yang disampaikan bisa lebih mengena, sekalipun kali ini ia memilih nada serius.
Kritik Kemal Palevi bukan sekadar luapan emosi pribadi. Ia adalah representasi dari keresahan rakyat yang merasa hak-haknya dikebiri, aspirasinya diabaikan, dan suaranya dibungkam.