Obrolan Warteg: Tebarkan Keharuman, Bukan Aroma Kebusukan

Jumat 06 Nov 2026, 07:01 WIB
Obrolan warteg hari ini, Jumat, 6 November 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)
Obrolan warteg hari ini, Jumat, 6 November 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh: Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Ada pepatah mengatakan jadilah seperti bunga yang menebarkan keharuman ke sekelilingnya, bahkan kepada tangan yang menghancurkannya.

Pepatah ini mengajarkan kepada kita agar selalu berbuat baik kepada siapa pun, di mana pun tanpa melihat latar belakangnya, status sosial dan ekonominya. Bukan hanya kepada teman – teman kita karena kebaikannya,tetapi kapada lawan-lawan dan musuh-musuh kita.

“Betul juga kalau kita remas bunga mawar, bunga melati keharumannya tak akan sirna, boleh jadi semerbak harumnya lebih terasa,” ujar bung Heri mengawali “Obrolan Warteg” bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Presiden Disadap Eks Kapolri, Kok Bisa? 

“Itu memberi pesan bahwa kita harus tetap berbuat baik terhadap sesama, meski telah menyakiti hati kita,” ujar Yudi.

“Itu sikap terpuji, persoalannya, kita bisa seperti itu enggak?” tanya Heri.

“Ini bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi bagaimana caranya harus bisa,” jawab Yudi.

“Loh, kok maksa, sih? Kan, enggak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain,” protes Heri.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Kian Butuh Ruang Berembuk Samakan Arah

“Bukan memaksa, sesama teman perlu saling mengingatkan agar sedapat mungkin mampu menebar keharuman, bukan aroma kebusukan,” jelas Yudi.

“Soal menebarkan aroma kebusukan itulah yang perlu dicermati. Kadang kita sudah berusaha berbuat kebaikan kepada orang lain, tetapi dibalas dengan keburukan, menyakitkan lagi,” urai mas Bro.

“Setuju Bro. Tak sedikit yang sudah dikasih pangkat, jabatan dan kekuasaan, eh.. bukannya semakin melakukan pengabdian terbaiknya kepada bangsa dan negara, malah merusak tatanan negara dengan korupsi,” kata Heri.

“Diberi kekuasaan oleh rakyat, bukannya digunakan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, malah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, ini pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” ujar mas Bro.

“Ada juga yang dikasih jabatan panjang, acap diberi sanjungan hingga dianugerahi bintang kehormatan, malah dibalas dengan keburukan,ingin ngulik – ngulik urusan pribadi orang yang ngasih jabatan dengan menyadap segala. Gimana etikanya, coba,” celatuk Yudi.

“Tak ubahnya pepatah air susu dibalas air tuba. Diberi bunga mawar, dibalas dengan bunga bangkai,” kata Heri.

“Loh jangan lupa, ada bunga berbau busuk yang amat terkenal di dunia, yakni rafflesia arnoldi alias padma raksasa sebagai puspa langka, selain karena ukurannya yang begitu besar, nggak ada lawan di dunia. Itu hanya negara kita yang punya,” urai Yudi.

“Sudah , sudah enggak usah melebar ke mana-mana. Prinsipnya kita diajarkan oleh para leluhur untuk selalu berbuat kebaikan kepada siapa pun juga, di mana pun berada, termasuk terhadap orang telah menyakiti kita,” urai mas Bro.

“Maknanya kepada orang yang berlaku buruk saja, kita harus berbuat baik, terlebih kepada orang yang telah melakukan banyak kebaikan kepada diri kita,” tambah Heri.


Berita Terkait


News Update