“Soal menebarkan aroma kebusukan itulah yang perlu dicermati. Kadang kita sudah berusaha berbuat kebaikan kepada orang lain, tetapi dibalas dengan keburukan, menyakitkan lagi,” urai mas Bro.
“Setuju Bro. Tak sedikit yang sudah dikasih pangkat, jabatan dan kekuasaan, eh.. bukannya semakin melakukan pengabdian terbaiknya kepada bangsa dan negara, malah merusak tatanan negara dengan korupsi,” kata Heri.
“Diberi kekuasaan oleh rakyat, bukannya digunakan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat, malah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, ini pengkhianatan terhadap amanah rakyat,” ujar mas Bro.
“Ada juga yang dikasih jabatan panjang, acap diberi sanjungan hingga dianugerahi bintang kehormatan, malah dibalas dengan keburukan,ingin ngulik – ngulik urusan pribadi orang yang ngasih jabatan dengan menyadap segala. Gimana etikanya, coba,” celatuk Yudi.
“Tak ubahnya pepatah air susu dibalas air tuba. Diberi bunga mawar, dibalas dengan bunga bangkai,” kata Heri.
“Loh jangan lupa, ada bunga berbau busuk yang amat terkenal di dunia, yakni rafflesia arnoldi alias padma raksasa sebagai puspa langka, selain karena ukurannya yang begitu besar, nggak ada lawan di dunia. Itu hanya negara kita yang punya,” urai Yudi.
“Sudah , sudah enggak usah melebar ke mana-mana. Prinsipnya kita diajarkan oleh para leluhur untuk selalu berbuat kebaikan kepada siapa pun juga, di mana pun berada, termasuk terhadap orang telah menyakiti kita,” urai mas Bro.
“Maknanya kepada orang yang berlaku buruk saja, kita harus berbuat baik, terlebih kepada orang yang telah melakukan banyak kebaikan kepada diri kita,” tambah Heri.
