Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Rupiah tak hanya sebagai simbol kedaulatan negara, juga identitas bangsa dan alat pemersatu bangsa. Melemahnya rupiah pertanda adanya tekanan ekonomi dari berbagai arah, baik global, domestik maupun kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, demikian telaah para ahli.
Sehari menjelang peringatan Hari Keuangan Nasional atau sering disebut Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) yang diperingati setiap tanggal 30 Oktober, nilai tukar rupiah menguat 47 poin hingga ke level Rp18.137 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya melemah.
Sebagai simbol kedaulatan bangsa, rupiah rupiah harus terus terjaga.Ini pula hendaknya menjadi momentum peringatan HORI.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Kian Dituntut Kejujuran, Jangan Tutupi Kepalsuan
“Rupiah harus tetap kuat, dan sampai kapan tetap kuat,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Rupiah kuat, bangsa akan bermartabat. Ini bukan slogan, tetapi fakta adanya,” tambah Yudi.
“Betul itu bukan slogan. Saya jadi ingat, terdapat buku dengan judul “Rupiah Kuat, Bangsa Bermartabat. Saya diundang oleh sang penulis, saat peluncuran buku tersebut, 14 November 2013. Saat itu, kalau nggak salah kurs rupiah sekitar Rp11.540 per dolar AS,” urai mas Bro.
“Wah, sudah lama sekali. Siapa penulisnya?” tanya Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Menanti Sosok Independen Pansel Calon Anggota KPU
“Buku tersebut ditulis oleh eksekutif muda, Muhamad Idrus, pengurus HIPMI, juga praktisi perdagangan valuta asing yang juga Ketua Umum BPP Asosiasi Pedagang Valuta Asing Indonesia, saat itu,” urai mas Bro.
