KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Bayang-bayang banjir pesisir kembali mengintai kawasan Jakarta Utara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat yang bermukim maupun beraktivitas di sepanjang pesisir Jakarta untuk bersiap menghadapi fenomena pasang maksimum air laut yang diprediksi terjadi pada 8 hingga 15 November 2026 mendatang.
Peringatan dini ini bukan tanpa alasan. Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agie Wandala Putra, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerbitkan Informasi Potensi Banjir Pesisir (Rob) secara resmi sejak Senin, 2 November 2026.
Rilis tersebut mencatat daftar kawasan pesisir di Indonesia yang berpeluang diterjang luapan air laut sepanjang bulan November, dengan Jakarta sebagai salah satu titik perhatian utama.
"Untuk wilayah Jakarta, potensi banjir rob diperkirakan terjadi pada 8–15 November 2026," terang Agie saat dikonfirmasi Poskota pada Senin.
Baca Juga: Banjir Rob di Muara Angke hingga Martadinata Jakut Mulai Surut
Ancaman banjir rob di pertengahan bulan ini berakar dari fenomena astronomi berulang, yakni fase Bulan Baru yang diperkirakan puncaknya jatuh pada 9 November 2026. Berdasarkan analisis pemantauan ketinggian muka air laut dan kalkulasi pasang surut BMKG, gravitasi dari kedudukan bulan tersebut berpotensi mendongkrak ketinggian maksimum air laut secara signifikan melampaui batas normalnya.
Dampak dari fenomena alam ini diprediksi membentang luas di sepanjang garis pantai Jakarta Utara. Mulai dari wilayah barat seperti Kamal Muara, Kapuk Muara, Pluit, Kamal, Penjaringan, hingga kawasan Muara Angke perlu meningkatkan kewaspadaan ekstra. Tren serupa juga membayangi titik-titik vital di Pademangan dan Tanjung Priok, meliputi Ancol, Kalibaru, hingga area pelabuhan Tanjung Priok itu sendiri, sebelum meluas ke sisi timur di Marunda dan Cilincing.
Tidak sekadar membasahi jalanan dan menggenangi permukiman warga, luapan air laut ini membawa ancaman yang merembet ke denyut nadi perekonomian lokal. Aktivitas vital seperti bongkar muat barang di pelabuhan utama berisiko tertahan, sementara para pelaku usaha perikanan darat dan tambak garam terancam menghadapi gangguan produksi akibat naiknya intrusi air laut.
Menghadapi potensi gangguan ini, BMKG meminta masyarakat pesisir tidak panik namun tetap mengambil langkah antisipasi mandiri sejak dini. Penyesuaian jadwal aktivitas harian dan pengamanan aset menjadi krusial agar dampak genangan tidak sampai melumpuhkan kehidupan harian.
Baca Juga: Upaya Tangani Banjir Rob-Angin Kencang Jelang Akhir Tahun, BPBD DKI Jakarta Siaga di Wilayah Rawan
Agie menuturkan, kunci utama keselamatan dan kenyamanan warga di tengah ancaman rob ini adalah keterbukaan informasi.
