Cerita tersebut menggambarkan masyarakat yang hidup di bawah pemerintahan otoriter bernama Capitol.
Dalam alur cerita, masyarakat menggunakan salam tiga jari sebagai tanda penghormatan, solidaritas, dan dukungan kepada mereka yang dianggap berani menentang ketidakadilan.
Gestur itu kemudian berkembang menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.
Popularitas The Hunger Games membuat salam tiga jari dikenal oleh masyarakat di berbagai negara, terutama kalangan muda.
Simbol yang berasal dari cerita fiksi tersebut kemudian digunakan dalam sejumlah gerakan sosial di dunia nyata.
Meski demikian, makna salam tiga jari tidak selalu sama di setiap tempat.
Penafsirannya bergantung pada latar belakang gerakan, tuntutan peserta, dan kondisi politik yang melatarbelakangi penggunaannya.
Lebih lanjut, salam tiga jari juga pernah digunakan dalam gerakan pro-demokrasi di sejumlah negara, termasuk Thailand dan Myanmar.
Di negara-negara tersebut, gestur ini menjadi salah satu simbol visual yang digunakan sebagian peserta aksi untuk menyampaikan aspirasi politik.
Di Thailand, salam tiga jari terlihat dalam gerakan protes yang menuntut perubahan politik dan reformasi.
Simbol tersebut digunakan sebagai bentuk ekspresi solidaritas sekaligus penolakan terhadap kondisi politik yang dipersoalkan para demonstran.
Sementara itu, di Myanmar, salam tiga jari turut digunakan dalam aksi penentangan terhadap pemerintahan militer setelah kudeta pada 2021.
